Biologi Tanah PENGAMBILAN CONTOH TANAH DAN OBSERVASI FISIKOKIMIA TANAH
Ini adalah hasil praktikumku di semester 5, sekalian ngsave data biar gak ilang kali yaa.. ^_^
Tapi daftar pustakanya tidak aku post ya.hhaha :D
Tapi daftar pustakanya tidak aku post ya.hhaha :D
PRAKTIKUM
I
PENGAMBILAN
CONTOH TANAH DAN OBSERVASI FISIKOKIMIA TANAH
A.
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Tanah
merupakan bagian vital bagi kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan
makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan darat, maupun organisme lainnya. Tanah
merupakan habitat hidup bagi organisme. Bagi tumbuhan, tanah menyediakan hara
dan air sekaligus penopang akar. Sedangkan bagi hewan darat, tanah menjadi
lahan untuk hidup dan bergerak.
Komposisi
tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Tanah terdiri dari
lapisan-lapisan yang disebut horizon tanah.
Setiap horizon memiliki sifat fisik, kimiawi, dan biologi yang dapat
berbeda.
Tekstur
tanah ditentukan oleh komposisi tiga partikel pembentuk tanah yaitu pasir,
debu, dan liat. Tanah berpasir didominasi oleh pasir, tanah berliat didominasi
oleh liat. Tanah dengan komposisi pasir, debu, dan liat yang seimbang disebut
tanah lempung.
Struktur
tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara
agregat (butir) tanah dan ruang antaragregrat. Tanah tersusun atas tiga fasa,
yaitu fasa padatan, fasa cair, dan fasa gas. Fasa cair dan gas mengisi ruang
antaragregat. Struktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusun
ini. Ruang antaragregrat disebut sebagai porus (jamak: pori).
Pengambilan
sampel tanah dan observasi fisikokimia tanah berguna untuk mengidentifikasi sifat
fisik dan kimia tanah dan akhirnya akan mengetahui kualitas tanah. Pengambilan
contoh tanah dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu teknik pengambilan
tanah secara utuh dan teknik pengambilan contoh tanah secara tidak utuh.
Pengambilan sampel tanah ini disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti.
Pada praktikum kali ini praktikan ingin
mengetahui kadar lengas, kelas tekstur tanah, struktur, kadar bahan organik
tanah, laju infiltrasi, dan pH tanah.
2. Tujuan
Praktikum
1)
Mengetahui
cara pengambilan contoh tanah.
2)
Menentukan
kadar lengas, kelas tekstur tanah, struktur, kadar bahan organik tanah,
laju infiltrasi, dan pH tanah.
3)
Menjelaskan
faktor-faktor yang memengaruhi kadar lengas, kelas tekstur tanah, struktur,
kadar bahan organik tanah, laju infiltrasi,
dan pH tanah.
B.
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Pengertian Tanah
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik
berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tumbuh tegaknya
tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai
gudang hara dan sumber penyuplai hara atau nutrisi (meliputi: senyawa organik
dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S,
Cu, Zn, Fe, Mn, B, dan Cl), dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota
(organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan
zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara
integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan
produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun
kehutanan.
2.
Sifat-Sifat Fisika Tanah
Dalam menilai kesuburan suatu tanah
maka sifat fisika tanah mempunyai peranan yang penting di samping sifat kimia.
Sifat-sifat fisika itu yaitu tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah,
warna tanah, temperatur tanah, tata air dan udara tanah. Sifat-sifat fisika ini
bisa berubah dengan adanya pengolahan tanah. Dengan pengolahan tanah ini
strukturnya menjadi baik sehingga akan membantu berfungsinya faktor pertumbuhan
tanaman secara optimal (Sarief, 1979).
Struktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah
satu sama lain. Ikatan
tanah berbentuk sebagai
agregat tanah. Apabila
syarat agregat tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa
sebab dari luar disebut ped, sedangkan ikatan yang
merupakan gumpalan tanah
yang sudah terbentuk
akibat penggarapan tanah disebut
clod. Untuk
mendapatkan struktur tanah yang
baik dan valid harus dengan
melakukan kegiatan di lapangan,
sedang laboratorium relatif
sukar terutama dalam
mempertahankan keasliannya dari bentuk agregatnya. Pengamatan di
lapangan pada umumnya didasarkan atas tipe struktur, kelas struktur dan derajat
struktur. Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacam-macam kelas
pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 tipe tanah yaitu : tipe lempeng (platy), tipe tiang, tipe gumpal (blocky), tipe remah (crumb), tipe granulair, tipe butir
tunggal dan tipe pejal (masif).
Sedangkan pembagian kelas yaitu sangat
halus, halus, sedang, kasar dan sangat
kasar. Semua tipe
tanah dengan ukuran kelas
berbeda-beda untuk masing-masing tipe. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat
tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau
berbutir tunggal, tanah lemah (weak)
yaitu tanah yang jika tersinggung mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih
dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah sedang/cukup yaitu
tanah berbentuk agregat yang jelas yang
masih dapat dipecahkan, tanah kuat (strong)
yaitu tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah
terasa ada tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan (Baver, 1961). Tanah mempunyai hubungan yang
sangat erat dengan tekstur tanah, tanah pasir biasanya tak lekat, tak liat serta
tak lepas. Akan tetapi tanah lempung berat berkonsistensi sangat lekat, sangat
liat, sangat teguh dan keras. Analisis konsistensi dapat dilakukan dengan
meletakkan tanah diatas ibu jari dan telunjuk
dalam genggaman tangan tergantung dari kelengasan tanah. Khusus tanah
yang dalam keadaan basah ini dapat
diamati dengan kelekatan dan kekenyalan berbeda dengan tanah kering
(Darmawijaya, 1990).
Bahan
organik tanah memberikan
warna kelam, semakin stabil bahan organik maka warnanya akan semakin tua. Humus yang
paling stabil mempunyai warna hitam, warna merah dapat menunjukkan tanah yang
telah lanjut mengalami perkembangan yang intensif, misalnya tanah latosol.
Warntu kuning sebagian besar disebabkan oleh adanya oksida besi. Tanah warna
coklat berarti banyak dalam mengandung oksida besi yang tercampur bahan
organik. Warna kelabu disebabkan oleh kuarsa, kaolin, dan mineral lempung,
karbonat Ca dan Mg, gibs serta macam garam serta senyawa ferro. Tanah yang
kelabu menandakan gejala gleisasi dimana
Fe terbentuk ferro. Tanah yang drainasenya buruk hampir selalu terdapat
bercak-bercak kelabu, coklat, merah dan kuning, warna putih terjadi karena
pengaruh bahan induk. Hampir setiap horison menunjukkan warna yang berbeda,
warna reduksi dan bercak menunjukkan adanya bahwa drainase yang terjadi buruk
(Darmawijaya, 1990 Untuk menentukan warna tanah menggunakan patokan yaitu
Munsell Soil
Salah satu sifat fisika tanah yang
secara langsung dapat dilihat dengan mata telanjang yaitu warna tanah. Warna
tanah adalah merupakan campuran dari warna abu-abu, coklat dan komponen warna
lainnya yang terjadi oleh adanya pengaruh berbagai faktor atau senyawa tunggal
atau bersama memberikan jenis warna tertentu. Warna tanah yang dominan bukan
warna-warna tanah yang murni tetapi sudah merupakan campuran dari warna
abu-abu, coklat dan warna seperti karat. Warna hijau atau biru yang murni tidak
dijumpai pada tanah, sedang dua warna atau lebih yang terjadi pada suatu bidang
permukaan atau tempat tertentu disebut becak-becak (nottling). Warna tanah dipengaruhi oleh kondisi atau sifat tanah
lainnya melalui pengaruhnya atas radiasi dari energi sinar matahari. Warna yang
semakin hitam atau semakin gelap akan lebih banyak menyerap panas dari sinar
matahari dari pada warna tanah yang terang. Sejumlah energi panas yang terdapat
dalam tanah mengakibatkan tingkat evaporasi yang tinggi, sehingga tanah yang
semakin gelap akan lebih cepat mengering dibanding warna yang lebih muda.
Temperatur tanah dipengaruhi oleh
warna tanah dan akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan aktifitas jasad renik serta
struktur tanah. Jadi dengan adanya warna tanah secara tidak langsung berpengaruh pada pertumbuhan
tanaman dan jasad renik. Selain itu warna tanah secara langsung dapat dipakai
untuk menentukan tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organik, menilai
keadaan pembuangan air, melihat adanya horison pencucian dan horison
pengendapan serta untuk dapat menaksir kandungan mineral. warna tanah yang
semakin merah menunjukkan tingkat
pelapukan semakin lanjut. Tanah yang semakin gelap warnanya akan semakin banyak
kandungan bahan organiknya. Warna kuning, coklat, atau merah menunjukkan
drainase baik, sedang warna kelabu kebiruan atau bercak-bercak menunjukkan
drainase jelek. Warna putih atau pucat menunjukkan horison pengendapan
(akumulasi) bahan dari horison diatasnya. Warna pucat atau kekuningan ini
menunjukkan berasal dari mineral kuarsa, sedang warna merah menunjukkan berasal
dari mineral mengandung besi (Soepardi, 1983).
3.
Sifat-Sifat Kimia Tanah
Sejumlah proses tanah dipengaruhi oleh
reaksi tanah, laju
dekomposisi mineral tanah dan bahan organik. Pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh reaksi
asam basa dalam tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh
tidak langsung terhadap tanaman adalah pengaruh terhadap kelarutan dan
ketersediaan hara tanaman. Pengaruh secara langsung ion H+ dilaporkan mempunyai
pengaruh beracun terhadap tanaman jika terdapat dalam konsentrasi yang tinggi (
Tan, 1991 ).
Pengujian PH tanah dapat dilakukan
dengan tiga cara, yaitu dengan menggunakan kertas lakmus, dengan menggunakan
kertas indikator universal dan dengan alat PH dilaboratorium dapat menggunakan
pH meter Beckman H5 ( Kuswandi, 1993 ). Ion H+ dalam tanah dapat berada dalam
keadaan terjerap. Ion H+ yang terjerap menentukan kemasaman aktif atau aktual
kemasaman potensial dan aktual secara bersama menentukan kemasaman total. pH
yang diukur pada suspensi tanah dalam larutan garam netral (misal KCl)
menunjukan kemasaman total oleh karena K+ dapat melepaskan H+ yang terjerap dengan
mekanisme pertukaran (Notohadiprawiro, 1998). Binatang biasanya dianggap sebagai
penyumbang sekunder setelah tumbuhan. Mereka akan menggunakan bahan ini atau
bahan organik sebagai sumber energi. Bentuk kehidupan tertentu terutama cacing
tanah, sentripoda atau semut memainkan peranan penting dalam pemindahan sisa
tanaman dari permukaan ke dalam tanah ( Soepardi, 1983 ).
Bahan kapur pertanian ada tiga macam,
yaitu CaCO3 atau CaMg(CO3)2, CaO atau MgO dan Ca(OH)2. Kapur yang disarankan
adalah CaCO3 atau CaMg(CO3)2 yang digiling dengan kehalusan 100 % melewati
saringan 20 mesh dan 50 % melewati saringan80 – 100 mesh.
Pemberian kapur dapat menaikkan kadar
Ca dan beberapa hara lainnya, serta menurunkan Al dan kejenuhan Al, juga
memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemberian kapur yang menyebabkan
sifat dan ciri tanah membaik, meningkatkan produksi tanaman ( padi, jagung,
kedelai )( Bailey, 1986 ).
Penentuan
PH tanah dapat ditentukan secara kalorimetrik dan elektrometrik baik
dilaboratorium ataupun dilapangan. Elektrik reaksi tanah ditentukan antara lain
dengan PH meter Backman, sedangkan kalorimetrik dapat ditentukan dengan suatu
alat atau menggunakan kertas PH, pasta PH dan larutan universal. Penentuan car
terakhir umumnya lebih murah tetapi peka terhadap pengaruh dari luar. Pada
prinsipnya dikerjakan dengan membandingkan warna larutan tanah dengan warna
larutan standart dari kertas, pasta dan larutan indikator universal (
Darmawijaya, 1990 )
4.
Infiltrasi
Infiltrasi adalah proses aliran air
(umumnya berasal dari curah hujan) masuk kedalam tanah. Perkolasi merupakan
proses kelanjutan aliran air yang berasal dari infiltrasi ke tanah yang lebih
dalam. Kebalikan dari infiltrasi adalah rembesan (speege). Laju maksimal gerakan air masuk kedalam tanah dinamakan
kapasitas infiltrasi. Kapasitas infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan
melebihi kemampuan tanah dalam menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya apabila
intensitas hujan lebih kecil dari pada kapasitas infiltrasi, maka laju
infiltrasi sama dengan laju curah hujan.
Laju infiltrasi umumnya dinyatakan
dalam satuan yang sama dengan satuan intensitas curah hujan, yaitu millimeter
per jam (mm/jam). Air infiltrasi yang tidak kembali lagi ke atmosfer melalui
proses evapotranspirasi akan menjadi air tanah untuk seterusnya mengalir ke
sungai disekitar. Salah satu proses yang berkaitan dengan distribusi air hujan
yang jatuh ke permukaan bumi adalah infiltrasi. Infiltrasi adalah proses masuk
atau meresapnya air dari atas permukaan tanah ke dalam bumi. Jika air hujan
meresap ke dalam tanah maka kadar lengas tanah meningkat hingga mencapai
kapasitas lapang. Pada kondisi kapasitas lapang air yang masuk menjadi
perkolasi dan mengisi daerah yang lebih rendah energi potensialnya sehingga
mendorong terjadinya aliran antara (interflow)
dan aliran bawah permukaan lainnya (base flow).
Proses infiltrasi sangat ditentukan
oleh waktu. Jumlah air yang masuk kedalam tanah dalam suatu periode waktu
disebut laju infiltrasi. Laju infiltrasi pada suatu tempat akan semakin kecil
seiring kejenuhan tanah oleh air. Pada saat tertentu laju infiltrasi menjadi
tetap. Nilai laju inilah yang kemudian disebut laju perkolasi. Ketika air hujan
jatuh diatas permukaan tanah, tergantung pada kondisi biofisik permukaan tanah,
sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan mengalir masuk kedalam tanah
melalui pori-pori permukaan tanah. Proses mengalirnya air hujan kedalam tanah
disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi dan gaya kapiler tanah.
Selain dari beberapa factor yang
menentukan infiltrasi diatas terdapat pula sifat-sifat khusus dari tanah yang
menentukan dan membatasi kapasitas infiltrasi (Arsyad, 1989) sebagai berikut:
a.
Ukuran
pori
Laju masuknya hujan ke dalam tanah
ditentukan terutama oleh ukuran pori dan susunan pori-pori besar. Pori yang
demikian itu dinamakan pori aerasi, oleh karena pori-pori mempunyai diameter
yang cukup besar yang memungkinkan air keluar dengan cepat sehingga tanah
beraerasi baik.
b.
Kemantapan
pori
Kapasitas infiltrasi hanya dapat
terpelihara jika porositas semula tetap tidak terganggu selama waktu tidak
terjadi hujan.
c.
Kandungan
air
Laju infiltrasi terbesar terjadi pada
kandungan air yang rendah dan sedang
d.
Profil
tanah
Sifat bagian lapisan suatu profil
tanah juga menentukan kecepatan masuknya air ke dalam tanah. Ketika air hujan
jatuh di atas permukaan tanah, maka proses infiltrasi tergantung pada kondisi
biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan
mengalir masuk ke dalam tanah melalui pori-pori permukaan tanah.
Proses mengalirnya air hujan ke dalam
tanah disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi dan gaya kapiler tanah. Oleh
karena itu, infiltrasi juga biasanya disebut sebagai aliran air yang masuk ke
dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler dan gravitasi. Laju air infiltrasi yang
dipengaruhi oleh gaya gravitasi dibatasi oleh besarnya diameter pori-pori
tanah. Tanah dengan pori-pori jenuh air mempunyai kapasitas lebih kecil
dibandingkan dengan tanah dalam keadaan kering (Asdak, 2002).
Pengukuran laju infiltrasi dapat
dilakukan pada permukaan tanah, pada kedalam tertentu, pada lahan kosong atau
pada lahan bervegetasi. Walaupun satuan infiltrasi serupa dengan konduktivitas
hidraulik, terdapat perbedaan antara keduanya. Hal itu tidak bisa secara
langsung dikaitkan kecuali jika kondisi batas hidraulik diketahui, seperti kemiringan
hidraulik dan aliran air lateral atau jika dapat diperkirakan. Laju infiltrasi
memiliki kegunaan seperti studi pembuangan limbah cair, evaluasi potensi lahan
tanki septik, efisiensi pencucian dan drainase, kebutuhan irigasi, penyebaran
air dan imbuhan air tanah, dan kebocoran saluran atau bendungan dan kegunaan
lainnya (Kirkby, M.J., 1971).
Jumlah dan ukuran pori yang menentukan
adalah jumlah pori-pori yang berukuran besar. Makin banyak pori-pori besar maka
kapasitas infiltrasi makin besar pula. Atas dasar ukuran pori tersebut, liat
kaya akan pori halus dan miskin akan pori besar. Sebaliknya fraksi pasir banyak
mengandung pori besar dan sedikit pori halus.
Tanah-tanah yang bertekstur kasar
menciptakan struktur tanah yang ringan. Sebaliknya tanah-tanah yang terbentuk
atau tersusun dari tekstur tanah yang halus menyebabkan terbentuknya
tanah-tanah yang bertekstur berat. Tanah dengan struktur tanah yang berat
mempunyai jumlah pori halus yang banyak dan miskin akan pori besar. Sebaliknya
tanah yang ringan mengandung banyak pori besar dan sedikit pori halus. Menurut
Boedi Susanto (2008), laju infiltrasi berbeda menurut jenis tanahnya.
C. METODE
PRAKTIKUM
1. Waktu
dan tempat pelaksanaan
: Rabu, 18September 2013,
di Hutan Biologi UNY.
2. Alat
Dan Bahan
1.
Patok 11.
Kertas label
2.
tali/meteran 12. Timbangan analitik
3.
termometer 13. Oven
4.
hygrometer 14. Desikator
5.
Ph stik 15. Gelas arloji
6.
Luxmeter 16. Laritan H2O2 10%
7.
sampel
tanah 17.
Botol air minum dengan lubang dibawah
8.
wadah
sampel tanah 18.
Aluminium foil
9.
air/aquades
10. alas kertas
3.
Cara Kerja
1. Penentuan
Lokasi dan Mekanisme Pengambilan Contoh Tanah
a.
Penentuan
Lokasi.
Memilih tempat yang tidak tergenang
air, dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, datar dan mewakili
tempat sekitarnya, yaitu di Hutan Biogi UNY.
Selanjutnya menentukan situs
pengambilan contoh tanah dengan cara membuat 3 titik sampel/monolith dengan
jarak antar titik 15 langkah.
b.
Pengambilan sampel tanah
Mengambil sampel tanah
pada setiap titik sampel dan memasukkannya dalam kantung plastik berlabel
(keterangan sampel) untuk dianalisis di laboratorium. Kemudian, melakukan pengukuran suhu
udara & tanah, kelembapan udara & tanah, pH tanah, vegetasi, cuaca,
kebasahan tanah, intensitas cahaya.
2. Penentuan
Tingkat Kebasahan Tanah
a. Metode Remas
1) Mengambil contoh tanah kering angin
secukupnya, contoh tanah yang telah diberi sedikit air dan contoh tanah yang
telah diberi air sampai kapasitas lapangan.
2) Mengamati warna dan bentuk
butiran.
3) Meremas diantara ibu jari dan telunjuk
kemudian amati kelengasannya, keliatannya, keteguhannya dan kekerasannya.
4) Membandingkan hasilnya
untuk setiap kenampakan kelengasan dari masing- masing contoh tanah dengan
tabel dibawah ini.
b. Metode Gravimetri
Cara pengovenan.
Prosedur:
1) Timbang cawan petri yang bersih
2) Masukkan sampel tanah
segar ke dalam cawan, kemudian timbang beratnya sebagai berat basah
3) Oven cawan berisi
sampeldengan panas 105 derajat Celcius, selama 48 jam.
4) Sebelum ditimbang, cawan
bersampel didinginkan dalam desikator.
5) Timbang cawan berisi
sampel dengan timbangan yang sama; sebagai berat kering
3. Penentuan
Tekstur Tanah
a.
Mengambil
sebongkah tanah, kira-kira 2gram
b.
Memasukkan
ke dalam tabung reaksi yang berisi air dengan perbandingan 1:1
c.
Membiarkan
dalam semalam dengan keadaan tabung tertutup
d.
Kemudian
membandingkan persentase debu, pasir dan liat
e.
Kemuan
memasukkan ke dalam table tekstur tanah (USDA)
4. Penentuan
Struktur Tanah
a. Tanah dibentuk gunungan (sand)
b. Tanah dibentuk bola kemudian hancur (loam sand)
c. Tanah dibentuk silinder tebal (loam)
d. Tanah dibentuk silinder tipis (loam)
e. Tanah silinder tipis kemudian dibentuk
huruf U (clay loam)
f. Tanah silinder tipis kemudian dibentuk
huruf O (laid clay)
g. Tanah dibentuk gelang (silty clay)
5. Penentuan
Kapur (CaCO3)
a.
Mengambil
sebongkah tanah, kira-kira 5gram
b.
Meratakan
tanah pada alas kertas yang kering (saring) kemudian menetesi tanah dengan
larutan HCL 2N atau 10% beberapa tetes dengan pipet tetes
c.
Mengamati
percikan dan suara tanah pada tanah yang ditetesi
d.
Mencatat
perbandingan banyaknya percik dan kerasnya desis antara sampel contoh tanah
satu dengan yang lainnya. Jika percikan banyak dan suara desis lebih keras berarti
positif (+)CaCO3 yang tidak bereaksi berarti negatif (-)
6. Penentuan
Mn
a.
Mengambil
sebongkah tanah, kira-kira 5gram
b.
Meratakan
tanah pada alas kertas
c.
Menetesi
tanah dengan larutan H2O2 10%
d.
Mengamati
percikan pada tanah
e.
Mencatat
perbandingan banyaknya percik antara sampel contoh tanah satu dengan yang
lainnya. Jika terdapat percikan berarti positif.
7. Penentuan
Laju Infiltrasi dan Kadar Air Pada Saat Kapasitas Kapang
a.
Memasukkan
sampel tanah yang diambil ke dalam botol aqua yang telah diberi lubang pada
dasar botol.
b.
Kemudian
memasukkan air ke dalam botol yang telah berisi sampel tanah dengan volume yang
sama kemudian ditampung airnya dengan gelas ukur untuk diukur selama waktu
pengamatan. Mengamati lama waktu sampai air tidak menetes lagi dari botol.
c.
Nilai
laju infiltrasi dapat hitung dengan volume sampel air dalam waktu
8. Penentuan
pH Tanah
Memasukkan alat ukur pH tanah (Soil
tester) kemudian mencatat hasil ulangan titik sampel tanah
D. HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Aspek
fisik-kimia tanah
No
|
Indikator yang diamati
|
Lokasi titik
|
||
1
|
2
|
3
|
||
1.
|
Suhu
permukaan tanah
|
28oC
|
28oC
|
29oC
|
2.
|
Cuaca
|
Mendung
|
Mendung
|
Mendung
|
3.
|
pH tanah
|
6,8
|
6,8
|
6,8
|
4.
|
Vegetasi
dominan
|
Papaya
|
pepaya
|
pepaya
|
5.
|
Kelembapan
udara
|
66
|
66
|
66
|
6.
|
Kebasahan
tanah
|
Coklat keputihan,debuan
|
Coklat keputihan,debuan
|
Coklat keputihan,debuan
|
7.
|
Kelembapan
tanah
|
77
|
70
|
60
|
8.
|
Intensitas
cahaya
|
444 lux
|
258 lux
|
334 lux
|
9.
|
pH air
tanah
|
7
|
7
|
6
|
10.
|
Kadar Mn
|
+
|
+
|
+
|
11.
|
Kadar CaCO3
|
+
|
+
|
+
|
Tabel 2. Laju infiltrasi
No.
|
Lokasi sampel
|
ulangan
|
waktu
|
volume
|
laju
|
Rata-rata
|
1.
|
I.
|
1
|
5’58”
|
40 ml
|
0,112 ml/s
|
0,065 ml/s
|
2
|
28’10”
|
47,5 ml
|
0,028 ml/s
|
|||
3
|
11’36”
|
38,5 ml
|
0,055 ml/s
|
|||
2.
|
II.
|
1
|
10’28”
|
42 ml
|
0,067 ml/s
|
0, 048 ml/s
|
2
|
17’43”
|
42,5 ml
|
0,039 ml/s
|
|||
3
|
15’16”
|
36 ml
|
0,039 ml/s
|
|||
3.
|
III.
|
1
|
8’39”
|
33,5 ml
|
0,065 ml/s
|
0,041 ml/s
|
2
|
23’33”
|
44,5 ml
|
0,031 ml/s
|
|||
3
|
30’17"
|
50 ml
|
0,028 ml/s
|
Tekstur tanah
Situs I :
Pasir
: 5/6 x 100% = 75,76%
Liat : 1,5/6 x 100% = 22,73%
Debu
: 0,1/6 x 100% = 1,52%
Situs II :
Pasir
: 3,7/6,2 x 100% = 59,68%
Liat : 2,3/6,2 x 100% = 37,09%
Debu
0,2/6,2 x 100% = 3,23%
Situs III :
Pasir
: 3,7/5,2 x 100% = 71,15%
Liat : 1,4/5,2 x 100% = 26,92%
Debu
: 0,1/5,2 x 100% = 1,92%
Dengan
segitiga USDA,dapat diketahui tekstur tanah :
1. Situs I = lempung liat berpasir
2. Situs II = lempung liat berpasir
3. Situs III = lempung liat berpasir
Struktur
tanah :
1. Situs I = 10am
2. Situs II = 10am
3. Situs III = 10am
Table
pengukuran kadar air pada saat kapasitas lapang
No.
|
Berat cawan (a)
|
Berat cawan + tanah (b)
|
Berat setelah di oven (c)
|
Kadar air (%)
|
1.
|
0,3 gr
|
3,6 gr
|
3,02 gr
|
21,3 %
|
2.
|
0,13 gr
|
3,9 gr
|
3,06 gr
|
28,6 %
|
3.
|
0,2 gr
|
3,7 gr
|
3,03 gr
|
23,6 %
|
Rata-rata
|
||||
Table
pengukuran kadar air dengan metode pengovenan
No.
|
Berat cawan (a)
|
Berat cawan + tanah (b)
|
Berat setelah di oven (c)
|
Kadar air (%)
|
1.
|
0,26 gr
|
3,2 gr
|
3 gr
|
7,29 %
|
2.
|
0,11 gr
|
3,35 gr
|
3,27 gr
|
2,53 %
|
3.
|
0,14 gr
|
3,33 gr
|
3,07 gr
|
8,87%
|
Rata-rata
|
||||
Keterangan : kadar air dihitung menggunakan rumus
sebagai berikut
Kadar air / kadar lengas % = ( berat basah : berat kering ) x
100%
Berat
basah
= { (b-c) : (c-a) } x 100 %
Tanah sangat vital
peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan
menyediakan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur
tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk
bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup
berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan
untuk hidup dan bergerak.
Pada praktikum kali
ini, memiliki tujuan yaitu: 1) mengetahui bagaimana
cara pengambilan contoh tanah, 2) menentukan kadar lengas, kelas tekstur tanah,
struktur, kadar bahan organik tanah, laju infiltrasi dan pH tanah, 3)
Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar lengas, tekstur tanah,
struktur, kadar bahan organik tanah, laju infiltrasi dan pH tanah.
Sampel tanah atau
contoh tanah adalah volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh
tanah ( horizon/lapisan/solum ) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan
sifat-sifat yang akan diteliti lebih detail di laboratorium. Untuk penetapan
sifat-sifat fisik tanah ada 3 macam pengambilan contoh tanah:
1. Contoh tanah tidak
terusik ( undistributed soil sample )
yang diperlukan untuk analisis penetapan berat isi atau berat volume agihan
ukuran pori dan permeabilitas.
2. Contoh tanah dalam
keadaan agragat tak terusik (undistributed
soil agregate) yang diperlukan untuk penetapan agihan ukuran agregat dan
derajat kemantapan agregat.
3. Contoh tanah terusik
( distributed soil sample ) digunakan
untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler,
sudut singgung, kaar lengas kritik, indeks patahan, luas permukaan,
erodibilitas tanah menggunakan hujan tiruan. Untuk penetapan sifat kimia tanah
misalnya kandungan hara ( N, P, K, dll ), kapasitas tukar kation ( KPK ),
kejenuhan basa, dll.
Berdasarkan tujuan
nomor 2, maka pengambilan sampel tanah dengan menggunakan contoh tanah terusik,
yaitu dengan menggunakan metode titik sampel. Pada pengambilan contoh tanah,
dibuat 3 titik sampel yang antara titik satu dan lainnya mempunyai jarak 5
meter. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan
menggali tanah sedalam 30 cm dan dengan diameter lubang 20 cm. Biasanya
pengambilan sampel tanah ini dengan menggunakan ring tanah ( bisa berupa PVC
berdiameter 20 cm dan tinggi 30 cm ). Tanah yang terambil kemudian dimasukkan
ke dalam kantung plastik dengan ukuran 2 kg. Dan untuk masing-masing sampel
yang terambil dari masing-masing titik sampel diberi label titik 1, titik 2,
dan titik 3. Pengambilan sampel dilakukan di hutan Biologi FMIPA UNY, yaitu
dibawah naungan.
Untuk masing-masing
titik sampel diukur suhu permukaan tanah, kelembaban udara, kebasahan tanah,
warna tanah, kelembaban tanah, intensitas cahaya, serta pH air tanah, cuaca
saat melakukan pengambilan sampel, vegetasi dominan.
Untuk mengetahui suhu
permukaan tanah menggunakan termometer. Termometer yang memiliki ujung berwarna
merah diletakkan diatas permukaan tanah titik sampel. Hal ini dilakukan untuk
masing-masing titik sampel. Didapat bahwa suhu titik 1 yaitu 280C,
titik 2 yaitu 280C, serta titik 3 yaitu 270C. Hal ini
menunjukkan bahwa ketiga titik sampel mempunyai suhu yang relatif sama.
Untuk kelembaban
udara saat pengambilan sampel, yaitu 66 mmHg untuk semua titik sampel.
Sedangkan kelembaban tanag saat pengambilan sampel pada titik 1 yaitu 77 mmHg,
pada titik 2 yaitu 70 mmHg, dan titik 3 yaitu 66 mmHg. Hal ini menunjukkan
bahwa pada titik 1 mempunyai tingkat kelembaban tanah yang tertinggi yang
artinya tanah memiliki kandungan air yang lebih banyak dibandingkan kedua titik
yang lain. Sedangkan titik 3 memiliki kelembaban tanah terendah, yaitu
mempunyai kandungan air yang sedikit. Hal ini disebabkan karena lokasi titik 3
berada tidak jauh dari jalan raya, sehingga jaraknya dari ruang terbuka tidak
terlalu jauh dibandingkan dengan titik 1 dan 2. Untuk mengetahui kelembaban
udara digunakan alat yang bernama higrometer, sedangkan untuk mengetahui
kelembaban tanah digunakan soil tester.
Alat ini juga digunakan untuk mengukur pH tanah.
Intensitas cahaya
pada saat pengambilan sampel di titik 1 yaitu 444 lux, titik 2 yaitu 258 lux,
serta titik 3 yaitu 334 lux. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa
pada titik 1 mempunyai intensitas cahaya yang paling besar. Akan tetapi
seharusnya yang memiliki intensitas cahaya yang terbesar adalah pada titik 3,
karena lokasinya yang dekat dengan daerah terbuka. Hal ini mungkin disebabkan
karena cuaca yang berubah-ubah. Alat yang digunakan untuk mengukur intensitas
cahaya yaitu luxmeter.
Untuk mengetahui pH
tanah pada masing-masing titik sampel digunakan soil tester. Berdasarkan pengukuran didapat, pada titik 1, 2, dan 3
sama-sama memiliki pH 6,8. Untuk pH 6,8 ini dikategorikan sebagai pH cukup
netral, akan tetapi masih mengandung sedikit asam. Hal ini mungkin dikarenakan
karena kandungan unsure H+ dan OH- dalam tanah hampir seimbang.
Hal ini diperjelas dengan seditnya seresah yang terdapat pada lokasi
pengambilan sampel. Dan disekitar lokasi pengambilan sampel juga terdapat
tempat pembakaran. Hal ini mungkin juga turut mempengaruhi tingkat keasaman
tanah.
Warna tanah pada titik
1, titik 2, dan titik 3 adalah sama yaitu berwarna coklat keputihan. Warna tanah penting untuk diketahui
karena berhubungan dengan kandungan bahan organik yang terdapat di dalam tanah
tersebut, iklim, drainase tanah dan juga mineralogi tanah (Thompson dan Troen,
1978). Warna gelap pada tanah umumnya disebabkan oleh kandungan
tinggi dari bahan organik yang terdekomposisi. Bahan organik di dalam tanah
akan mengahsilkan warna kelabu gelap, coklat gelap, kecuali terdapat pengaruh
mineral seperti besi oksida ataupun akumulasi garam-garam sehingga sering
terjadi modifikasi warna.
Untuk kondisi cuaca
saat pengambilan sampel baik pada titik 1, 2, dan 3 yaitu mendung. Sedangkan
vegetasi yang dominan pada lokasi pengambilan sampel titik 1, 2 dan 3 sama,
yaitu tanaman papaya.
Untuk tingkat
kebasahan tanah dilakukan dengan metode remas, yaitu dilakukan dengan cara
meraba atau meremas kemudian dicocokkan dengan tabel. Berdasarkan hasil
remasan, maka tanah yang diambil merupakan jenis tanah debuan baik untuk titik
pengambilan 1, 2, maupun 3. Tanah debuan, yaitu bahan galian yang bersifat
rapuh dan mendebu kalau diremas, kalau ditetesi air warnanya akan bertambah
gelap. Yang berarti tanah ini masuk pada tingkat kebasahan kering.
Pada pengamatan laju
infiltrasi dilakukan di lapangan. Dilakukan dengan menggunakan gelas aqua yang
telah diberi lubang yang memiliki jumlah dan ukuran lubang yang sama sebelumnya
pada bagian bawahnya. Disediakan 3 buah gelas aqua untuk masing-masing titik.
Tanah dimasukkan dalam massa yang sama dalam 3 buah gelas aqua yang sudah
diberi lubang tersebut. Kemudian diberi air dengan volume yang sama untuk
masing-masing sampel. Pada saat memasukkan air, saat itu juga stopwatch
dinyalakan. Air yang keluar ditampung untuk kemudian dihitung volume air yang
tersisa. Saat air sudah tidak menetes, saat itu juga stopwatch dihentikan.
Masing-masing titik sampel, dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali.
Hasil yang didapat,
yaitu untuk titik sampel 1: ulangan 1, waktu yang dibutuhkan adalah 5’58’’
dengan sisa air 40 ml. Ulangan 2, waktu yang dibutuhkan adalah 28’10’’ dengan
sisa air 47,5 ml. Ulangan 3, waktu yang dibutuhkan adalah 11’36’’ dengan sisa
air 38,5 ml. Untuk titik sampel 2: ulangan 1, waktu yang dibutuhkan adalah
10’28’’ dengan sisa air 42 ml. Ulangan 2, waktu yang dibutuhkan adalah 17’43’’
dengan sisa air 42,5 ml. Ulangan 3, waktu yang dibutuhkan adalah 15’16’’ dengan
sisa air 36 ml. Sedangkan titik sampel 3: ulangan 2, waktu yang dibutuhkan
adalah 8’39’’ dengan sisa air 33,5 ml. Ulangan 2, waktu yang dibutuhkan adalah
23’33’’ dengan sisa air 44,5 ml. Ulangan 3, waktu yang dibutuhkan adalah
30’17’’ dengan sisa air 50 ml.
Untuk menghitung laju
unfilftrasi digunakan rumus volume yang tersisa/waktu. Dengan hasil yang
didapat diatas, maka dapat diketahui laju infiltrasi titik sampel 1 untuk
ulangan 1, 2, dan 3 berurutan adalah 0,112
ml/s, 0,028 ml/s, dan 0,055 ml/s. Sehingga diperoleh rata-rata laju infiltrasi
pada sampel titik 1 adalah 0,065 ml/s.
untuk titik sampel 2, pada ulangan 1, 2, dan 3 secara berurutan mempunyai nilai
laju infiltrasi yaitu 0,067 ml/s, 0,039 ml/s, dan 0,039 ml/s. Dan mempunyai
nilai rata-rata laju infiltrasi pada sampel titik 2 adalah 0, 048 ml/s. Laju infiltrasi untuk titik sampel 3 pada ulangan 1,
2, dan 3 secara berurutan yaitu 0,065 ml/s, 0,031 ml/s, dan 0,028 ml/s.
Sedangkan laju iniltrasi rata-rata sampel titik 3 ini, yaitu 0,041 ml/s.
Berdasarkan hasil rata-rata laju
infiltrasi pada titik sampel 1, 2 dan 3, maka dapat diketahui bahwa untuk laju
infiltrasi yang tertinggi yaitu pada sampel titik 1, sedangkan laju infiltrasi
yang paling rendah yaitu pada sampel titik 3. Hal ini tidak sesuai dengan
kondisi lapangan tempat pengambilan sampel, yaitu pada bagian kelembabannya.
Berdasarkan teori laju infiltrasi terbesar terjadi pada kandungan air yang
rendah dan sedang. Jika dibandingkan dengan hasil kelembaban tanah, maka
seharusnya yang memiliki laju infiltrasi tertinggi adalah sampel titik 3.
Selanjutnya untuk mengetahui tektur
tanah, yaitu dengan memasukkan sampel tanah dari titik1, 2, dan 3, dengan
volume yang sama kedalam tabung reaksi. Kemdian diberi air dengan volume yang
sama pula pada masing-masing sampel tanah dengan perbandingan 1:2. Kemudian
dibiarkan selama 1 hari atau 2 hari.
Setelah selesai
dengan pengambilan sampel dan pengamatan sifat fisik di lapangan, pengamatan
kembali dilanjutkan dengan sampel yang telah diperoleh di laboratorium.
Pengamatan di laboratorium meliputi pengamatan tekstur tanah, struktur tanah,
uji kadar Mn, uji kadar CaCO3.
Setelah 2 hari, tanah
kemudian akan mengendap dan terbentuk lapisan-lapisan, yaitu pasir, liat dan
debu. Setelah dihitung, presentase pasir, liat dan debu secara berurutan adalah
75,76%, 22,73%, dan 1,52%
untuk sampel tanah dari titik 1. Sedangkan untuk sampel titik 2, dihasilkan
presentase pasir, liat, dan debu secara berurutan, yaitu 59,68%, 37,09%, dan
3,23%. Sedangkan untuk titik sampel 3, presentase pasir, liat dan debu secara
berurutan, yaitu 71,15%, 26,92%, dan 1,92%.
Hasil presentase kemudian di maukkan
ke dalam segitiga tektur tanah, yaitu:
Berdasarkah hasil
presentase yang dimasukkan dalam table, maka dapat diketahui bahwa tektur tanah
untuk sampel titik 1, 2, dan 3 sama, yaitu lempung liat berpasir. Hal ini
dibuktikan dengan pengamatan struktur tanah. Pengamatan struktur tanah
dilakukan dengan cara membentuk tanah menjadi berbagai bangun, yaitu gunung,
bola, silinder, dll. Berdasarkan pengamatan, ketiga sampel tanah dapat dibentuk
gunung, bola, dan juga silinder, dan tidak dapat dibentuk bentuk U, yaitu
bentuk selanjutnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa struktur tanah pada
ketiganya yaitu loam.
Untuk mengetahui
kandungan Mn dilakukan dengan menetesi tanah dengan larutan H2O2
10%. Kemudian diamati apakah terdapat percikan pada tanah yang tertetesi.
Hasilnya, yaitu tanah sampel dari titik 1 memiliki jumlah percikan yang sangat
banyak ( + ), begitu juga dengan sampel tanahd dari titik 2, dan 3. Percikan
ini disebabkan karena, terjadinya perubahan sifat oksidasi tanah menjadi
reduksi, yaitu reduksi MnO2 menjadi Mn.
Kemudian untuk menguji kandungan kapur
dalam tanah, yaitu dengan menetesi tanah dengan larutan HCl. Kemudian dilihat
apakah terdapat percikan, atau tidak. Hasilnya pada ketiga sampel dari titik 1,
2, dan 3, memiliki jumlah percikan yang banyak ( + ). Hal ini
terjadi karena terjadinya perubahan CaCO3+HCl CaCl+HCO3.
Untuk mengetahui kadar air atau kadar
lengas, pada saat kapasitas lapang. Pertama-tama cawan petri ditimbang, dan
didapat hasil, untuk cawan sampel 1, 2, dan 3 berurutan, yaitu 0,3 gr, 0,13 gr,
dan 0,2 gr ( sebagai a ). Kemudian cawan diberi tanah dan dihitung berat cawan
& tanah, yaitu didapat untuk sampel 1, 2, dan 3 secara berurutan 3,6 gr,
3,9 gr, dan 3,7 gr ( sebagai b ). Selanjutnya dilakukan pengovenan pada suhu
105o C selama 48 jam. Setelah dioven dan didinginkan didesikator,
ditimbang lagi beratnya, yaitu didapat 3,02 gr, 3,06 gr, dan 3,03 gr ( sebagai c ).
Sedangkan untuk mengetahui kadar air
dengan menggunakan metode gravimetric yaitu cara pengovenan, caranya sama
dengan pada saat mengukur kapasitas lapang, yaitu menimbang cawan petri,
didapatkan 0,26 gr, 0,11 gr, dan 0,14 gr ( sebagai a ). Kemudian ditimbang lagi
setelah cawan ditambah tanah. Didapatkan 3,2 gr, 3,35 gr, dan 3,33 gr ( sebagai
b ). Ditimbang lagi setelah dilakukan pengovenan pada suhu 105o C
selama 48 jam, didapatkan 3 gr, 3,27 gr,
dan 3,07 gr ( sebagai c ).
Hasil tersebut kemudian dihitung
dengan menggunakan rumus:
Kadar
air / kadar lengas % = ( berat
basah : berat kering ) x 100%
Berat basah
= { (b-c) : (c-a) } x 100 %
Sehingga didapat hasil,
untuk kapasitas lapang bagi sampel dari titik 1, 2, dan 3, secara berurutan
adalah 21,3 %, 28,6 %, dan 23,6 %. Sedangkan hasil perhitungan dengan
menggunakan metode pengovenan, yaitu pada sampel 1, 2, dan 3 secara berurutan,
yaitu 7,29 %, 2,53 %, dan 8,87%.
E. KESIMPULAN
Dari hasil
praktikum dapat disimpulkan bahwa:
1.
Cara
pengambilan contoh tanah adalah dengan mengambil tanah sampel dengan
menggunakan sekop ataupun alat lainnya.
2.
pH
tanah yang terukur adalah 6,8 untuk titik 1, 2, ataupun 3. Laju infiltrasi yang
terukur adalah 0,065ml/s untuk titik 1, 0,048ml/s untuk titik 2, dan 0,41ml/s
untuk titik 3. Sedangkan tekstur tanah untuk
sampel titik 1, 2, dan 3 sama, yaitu lempung liat berpasir. Terakhir, struktur
tanah pada ketiganya yaitu loam.
3.
Faktor-faktor
yang memengaruhi kadar lengas, kelas tekstur tanah, struktur, kadar bahan
organik tanah, laju infiltrasi, dan pH
tanah adalah suhu, cuaca, kandungan bahan organik tanah, kelembapan tanah,
serta mikroorganisme yang hidup di tanah.
Comments
Post a Comment