Berkenalan dengan Seni Adiluhung Batik



Secara etimologis batik yang mempunyai akhiran “tik” dalam kata “batik” berasal dari kata menitik atau menetes. Dalam bahasa kuno disebut serat, dan dalam bahasa ngoko disebut tulis atau menulis dengan lilin. Menurut Kuswadji (1981:2) “mbatik” berasal dari kata “tik” yang berarti kecil. Sehingga, “mbatik” adalah menulis atau menggambar serba rumit (kecil-kecil).
Kain batik merupakan kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat dengan cara pelekatan lilin (malam). Sedangkan kain bermotif batik adalah kain yang bermotif batik namun motifnya tidak digambar melalui pelekatan lilin batik, biasanya menggunakan printing tekstil.
Kapan batik muncul?

Batik sebagai seni adiluhung pada awal kelahirannya hanya digunakan oleh kalangan keraton. Batik diwarnai simbol-simbol keraton dan digunakan dalam upacara adat. Filosofi dalam pola batik merupakan harapan dan doa-doa sehingga batik selalu ada di setiap upacara-upacara masyarakat Jawa, dari saat dilahirkan hingga ajal menjembut. Akan tetapi, setelah pergeseran waktu, batik menjadi komoditas perdagangan yang luas dan memasyarakat. Batik kini digunakan dalam keseharian, tidak hanya dalam upacara adat.
Bagaimana teknik membuat batik?
Teknik membuat batik merupakan tahapan persiapan kain yang digunakan (biasanya kain mori) sampai menjadi kain batik. Persiapan meliputi nggirah/ngetel (mencuci), nganji (menganji), ngemplong (seterika, kalendering). Adapun proses membuat batik meliputi pembuatan motif dengan cara pelekatan lilin batik pada kain, pewarnaan batik (celup, colet, lukis/painting, printing), dan penghilangan lilin dari kain (Sewan Soesanto, 1974).
Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasar Resist Dyes Technique atau Teknik Celup Rintang dimana pembuatannnya dikerjakan dengan mengikat dan mencelup motif, kemudian menggunakan zat perintang warna. Teknik tersebut sangat sederhana. Pada mulanya, zat perintang yang digunakan adalah bubur ketan, namun sekarang zat perintang yang digunakan adalah malam (lilin).
Batik selalu menyertai setiap tahapan daur hidup manusia, sehingga sebagai karya seni budaya sudah seharusnya kita mencintai batik, menumbuhkan rasa memiliki (andarbeni), dan nguri-uri  (melestarikan).

Referensi:
Kuswadji. 1981. Mengenal Seni Batik di Yogyakarta. Yogyakarta: Proyek Pengembangan Permuseuman Yogyakarta.
Sewan Soesanto. 1980. Seni Kerajinan Batik di Indonesia. Yogyakarta: BBKB: Dept. Perindustrian RI.




Comments

Popular posts from this blog

Biologi Tanah Observasi dan Identifikasi Mikrofauna, Mesofauna, dan Makrofauna Tanah, serta Identifikasi Cacing Tanah

Biologi Tanah PENGAMBILAN CONTOH TANAH DAN OBSERVASI FISIKOKIMIA TANAH

Biologi Perkembangan Tumbuhan : Perkecambahan Serbuk Sari