Biologi Tanah : PEMANFAATAN CACING TANAH UNTUK PERBAIKAN KUALITAS TANAH DENGAN INDIKATOR PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DAN SIFAT FISIK KIMIA TANAH
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kesuburan tanah merupakan
hal yang sangat penting dalam dunia pertanian. Kesuburan tanah di anggap dapat
menjamin hasil tanaman selain faktor varietas, pengeloaan tanaman dan hama
serta penyakit. Namun untuk menjamin produksi tanaman tidak hanya perlu
memperhatikan kesuburan tanah melainkan harus juga memperhatikan kualitas tanah
tersebut. Kualitas tanah (soil health
atau soil quality) adalah kondisi
tanah yang menggambarkan tanah itu sehat, yaitu mempunyai sifat tanah yang baik
dan produktifitasnya tinggi secara berkelanjutan. (Utomo, 2002 dan Reintjes et
al, 1999). Kualitas tanah meliputi kualitas
tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing
dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter
sifat fisik yang menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur,
stabilitas agregat, kemampuan tanah menahan dan meloloskan lain serta ketahanan
tanah terhadap erosi dan lain sebagainya. Sedangkan, parameter kimia yang mempengaruhi kualitas tanah adalah, ketersediaan unsur hara,
KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan
parameter biologi yang menentukan kualitas tanah anatara lain jumlah dan jenis
mikrobia yang ada dan beraktivitas di dalam tanah.
Tanah memiliki kesuburan
yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, antara lain
bahan induk, iklim, relief, dan organisme. Salah satu organisme yang berperan
dalam menyuburkan tanah adalah cacing. Cacing tanah memiliki banyak manfaat
bagi lingkungan. Cacing memiliki kemampuan untuk memperbaiki struktur tanah, mereka akan membantu meningkatkan porositas,
dinamika nutrisi, dan pertumbuhan tanaman. Cacing tanah sangat sensitif terhadap
polusi lingkungan. Polusi yang disebabkan dari racun dalam herbisida kimia dan
pestisida bisa membuat cacing tanah menyingkir dari tanah pekarangan. Sudah
sejak zaman dahulu cacing dijadikan indikator untuk menentukan kualitas tanah.
Cabai rawit termasuk dalam suku
terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di
dataran rendah ataupun di dataran
tinggi. . Batang Tanaman Cabai Batang utama tanaman cabai tegak lurus
dan kokoh, tinggi sekitar 30 – 40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5 – 3,0 cm.
Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai
intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30 – 40
hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang
dimulai pada umur 10 – 15 HST ( Anonim, 2013 ).
Dari paparan di
atas, kami
tertarik untuk
meneliti pemanfaatan
cacing tanah untuk perbaikan kualitas tanah dengan indikator pertumbuhan tanaman cabe rawit (Capsicum frutescens L.) dan sifat fisik
kimia tanah.
B. Rumusan
Masalah
Bagaimana
pengaruh penambahan cacing tanah terhadap perbaikan
kualitas tanah dengan indikator tanaman cabai rawit (Capsicum
frutescens L.) dan sifat fisik kimia tanah?
C. Tujuan
Mengetahui
pengaruh penambahan cacing tanah terhadap perbaikan
kualitas tanah dengan indikator tanaman
cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan sifat fisik
kimia tanah.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Kualitas
Tanah
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di
bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga
menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga
menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan
bergerak ( Anonim, 2012 ).
Tanah sangat vital
untuk mendukung kehidupan. Tanah menjadi wahana jelajah akar,menyediakan air,
udara dan unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan. Tanah merupakan rumah bagi
jutaan mikroorganisme yang
melakukan berbagai aktivitas biokimia, seperti pengikatan nitrogen dari udara sampai pelapukan bahan organik, juga
merupakan tempat bagi mikro dan mesofauna – termasuk cacing tanah, semut dan
rayap yang memakan akar tanaman, organisme lain dan bahan organic ( Anonim, 2012).
Tanah yang sehat
memiliki kemampuan untuk menyimpan dan memproses jumlah yang menakjubkan air.
Rendahnya kualitas, habis tanah, di sisi lain, hanya tidak akan menahan air dan
akan, pada gilirannya, meninggalkan tanaman yang tinggi dan kering dan akhirnya
mati. Mereka kunci untuk sehat, tinggi kualitas tanah adalah banyak bahan
organik, sesuatu yang terbentuk oleh organisme hidup. Dengan menambahkan bahan
organik ke tanah, kita akan secara dramatis meningkatkan kemampuannya untuk
menahan dan mengatur air ( Badan Lingkungan Hidup, 2013 ).
Kualitas tanah
meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat
terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang
menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat, kemampuan tanah
menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap erosi dan lain sebagainya.
Lalu parameter kimia yang mempengaruhi kualitas taah adalah, ketersediaan unsure hara,
KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat
pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan parameter biologi yang menentukan kualitas tanah antara lain jumlah dan jenis
mikrobia yang ada dan beraktivitasdi dalam tanah.
Dalam penentuan kualitas tanah, harus memperhatikan banyak faktor,
salah satuna yaitu sifat tanah (fisik, biologi, dan kimia). Oleh karena itu,
sangat pentng untuk mahasiswa melaksanakan
praktikum kualitas tanah, yaitu dengan menjadikan sifat fisik, kimia, dan
biologi tanah sebagai parameter yang diamati (Badan Lingkungan Hidup, 2013 ).
Doran & Parkin (1994) memberikan batasan kualitas tanah adalah
kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk
melestarikan produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta
meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Johnson et al. (1997) mengusulkan
bahwa kualitas tanah adalah ukuran kondisi tanah dibandingkan dengan kebutuhan
satu atau beberapa spesies atau dengan beberapa kebutuhan hidup manusia (
Partoyo, 2005 ).
Kualitas tanah diukur berdasarkan pengamatan kondisi dinamis
indikator-indikator kualitas tanah. Pengukuran indikator kualitas tanah
menghasilkan indeks kualitas tanah. Indeks kualitas tanah merupakan indeks yang
dihitung berdasarkan nilai dan bobot tiap indikator kualitas tanah.
Indikator-indikator kualitas tanah dipilih dari sifat-sifat yang menunjukkan
kapasitas fungsi tanah. Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik
atau proses fisika, kimia dan biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi
tanah (SQI, 2001). Menurut Doran & Parkin (1994), indikator-indikator
kualitas tanah harus (1) menunjukkan proses-proses yang terjadi dalam ekosistem,
(2) memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah, (3)
dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat diterapkan di berbagai kondisi
lahan, (4) peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan
iklim, dan (5) apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa
diamati pada data dasar tanah ( Partoyo, 2005 ).
Struktur tanah didefinisikan sebagai
susunan saling mengikat partikel-partikel tanah. Ikatan partikel tanah itu
berwujud sebagai agregat tanah, agregat tanah tersebut
dinamakan ped. Gumpalan tanah yang terbentuksebagai akibat
penggarapan tanah (clod), atau yang terbentuk karena sebab lain dari luar
(fragmen), atau yang terbentuk karena akumulasi local senyawa-senyawa yang
mengikat partikel tanah (konkresi) tidak terasuki apa yang dinamakan agregat
tanah. Struktur danah berdasarkan pengamatan dibedakan menjadi tiga yakni tipe
struktur, klass struktur, dan derajat struktur(Darmawijaya, 1997).
Pengamatan dilapangan pada umumnya
didasarkan atas type struktur, klas struktur dan derajat struktur. Ada
macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacam-macam klas pula. Di sini
akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type lempeng ( platy ), type tiang,
type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ), type granulair, type butir
tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian klas yaitu dengan fase
sangat halus, halus, sedang, kasar dan sangat kasar. Untuk semua type tanah
dengan ukuran klas berbeda-beda untuk masing-masing type. Berdasarkan tegas dan
tidaknya agregat tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur
pejal atau berbutir tunggal, tanah lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika
tersinggung mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi
menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah sedang/cukup yaitu tanah berbentuk
agregat yang jelas yang masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu
tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada
tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan (Baver dalam Nur,
2010)
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel
tanah dalam suatu masa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi
lempung (clay), debu (silt), dan pasir (sand). Butir
tunggal tanah di beri istilah partikel tanah dan golongan partikel tanah diberi
istilah fraksi tanah.Penggolongan tekstur tanah didasarkan atas perbandingan kandungan
lempung, debu, dan pasir penyusun tanah.
Definisi dari beberapa tekstur tanah
yakni sand merupakan
tanah lepas-lepas dan berbutir tunggal yang mudah dilihat dan dirasakan, jika
di pijak kering berderai, basah tergumpal meremah. Sandy
loam merupakan tanah mengandung cukup pasir melekat karena adanya debu dan
lempung , sedangkan pasirnya dapat dirasakan dipijat, kering membentuk gumpalan
lagi yang mudah pecah lagi. Loam merupakan tanah yang mengandung sama
banyak pasir, debu, dan lempung sehingga terasa agak ngeres, licin dan agak
liat. Silt loammerupakan tanah kering menggumpal tetapi mudah
pecah. Clay loam tektur tanah yang berstruktur halus yang dapat pecah
menjadi gumpalan-gumpalan yang keras jika pecah, jikah basah pijatan membentuk
batang-batang tipis yang sukar pecah. Claymerupakan tanah yang berstruktur
halus yang biasanya membentuk gumpalan-gumpalan kerasyang kering. Beberapa tanah
jenis lempung halus kadar koloidnya sangat tinggi konsistensinya gembur dan dan
kurang liat dalam sembarang kandungan air (Darmawijaya, 1997).
B.
Cacing
Tanah
Klasifikasi cacing tanah:
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Class : Clitellata
Order : Haplotaxida
Family : Lumbricidae
Genus : Lumbricus
Species : Lumbricus
rubellus
SIKLUS HIDUP CACING TANAH
Sepasang cacing tanah dewasa dapat berkembang
biak hingga menghasilkan 1500 ekor cacing dalam satu tahun. Populasi cacing
tanah mengalami peningkatan hingga 100% setiap 4-6 bulan. Cacing tanah akan
membatasi perkembangbiakan mereka agar sesuai dengan makanan yang tersedia dan
ukuran tempat hidup mereka.
Manfaat cacing tanah, antara lain :
·
Cacing tanah dapat membantu mengolah sampah dapur menjadi kompos
yang baik untuk tumbuhan. Cacing tanah mampu mengubah bahan organik yang
dimakan menjadi kotoran (castings)
dan urine (worm tea). Kandungan urea dalam urine cacing adalah pupuk alami yang
baik. Terlebih kotoran cacing mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, potasium,
dan kalsium yang penting untuk pertumbuhan tanaman.
·
Tubuh cacing tanah yang terdiri atas 70% protein adalah sumber
makanan bergizi tinggi bagi hewan ternak dan peliharaan seperti ayam, bebek, ikan, sidat, dan burung.
·
Kegiatan menggali yang dilakukan cacing tanah mampu menciptakan
sistem drainase alami, meningkatkan jumlah udara dan air dalam tanah sehingga
tanah menjadi lebih gembur dan baik untuk ditanami semua jenis tanaman.
Peran cacing tanah bagi kesuburan tanah,
antara lain:
·
Memperbaiki tata ruang tanah
·
Membentuk pori tanah : cacing beraktivitas didalam tanah baik
secara vertikal maupun horizontal, sehingga jumlah pori makro tanah bertambah.
·
Infiltrasi (jalannya air didalam tanah) : infiltrasi penting untuk
mengendalikan limpasan permukaan dan pengangkutan partikel tanah (erosi).
·
Agen bioturbasi : pembalikan dari atas kebawah atau sebaliknya
yang dilakukan cacing untuk mendistribusikan agar bahan organik merata didalam
tanah.
C.
Tanaman
Cabai
Klasifikasi
cabai rawit
Kingdom :
Plantae
Sub
Kingdom : Tracheobionta
Divisio :
Spermatophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Sub Kelas :
Asteridae
Ordo :
Solanales
Family :
Solanaceae
Genus :
Capsicum
Spesies : Capsicum frutescens L.
(Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2012).
Tanaman Cabai pada dasarnya terbagi atas dua golongan utama,
yaitu cabai besar (Capsicum annum L.)
dan cabai rawit (Capsicum frutescens
L.) Cabai besar terbagi menjadi dua golongan, yaitu cabai pedas (hot pepper)
dan cabai paprika (sweet pepper). Pada artikel ini yang akan diulas adalah
cabai besar pedas (Capsicum annum var.
longum L.)
(Anonim, 2013).
Cabai
atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae)
dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran
tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan
memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur).
Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan
sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar (Dinas
Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2012).
Perakaran tanaman cabai merupakan akar tunggang yang terdiri
atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder). Dari akar lateral keluar
serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer berkisar 35 – 50 cm.
Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35 – 45 cm ( Anonim, 2013 ).
Batang Tanaman Cabai Batang utama tanaman cabai tegak lurus
dan kokoh, tinggi sekitar 30 – 40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5 – 3,0 cm.
Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai
intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30 – 40
hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang
dimulai pada umur 10 – 15 HST ( Anonim, 2013 ).
Dilihat dari pertumbuhannya, pertambahan panjang tanaman
cabai diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan
seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk
percabangan sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus-
menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan terbentuk sekitar 11 – 17
percabangan pada satu periode pembungaan ( Anonim, 2013 ).
Daun Tanaman Cabai Daun tanaman cabai berwarna hijau muda
sampai gelap. Daun ditopang oleh tangkai daun. Tulang daun berbentuk menyirip.
Secara keseluruhan bentuk daun tanaman cabai besar adalah lonjong dengan ujung
daun meruncing (Anonim, 2013 ).
Tanaman
cabe cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang
serta tidak tergenang air; pH tanah yang ideal sekitar 5 - 6. Waktu tanam yang
baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret - April). Untuk
memperoleh harga cabe yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan
panen pada bulan Desember, walaupun ada risiko kegagalan. Tanaman cabai
diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari
hama dan penyakit . Buah cabe yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga
kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil
bijinya: Untuk areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabe
(300-500 gr biji) (Dinas Pertanian dan Perikanan
Kabupaten Majalengka, 2012).
Syarat tumbuh tanaman cabai rawit:
1.
Tanah. Tanah
yang direkomendasikan sebagai media tanam cabai rawit adalah tanah yang subur
dan gembur selain itu juga harus kaya dengan zat hara. Usahakan memilih tanah
yang baik dalam penyerapan air jangan memilih tanah yang tidak bisa menyerap
air dengan baik karena akan menjadi genangan dan bisa merusak cabai. Untuk itu
perbanyak pemberian humus. Cabai rawit bisa ditanam di dataran tinggi maupun
dataran rendah.
2.
Iklim. Cabai
rawit bisa tumbuh di daerah yang mempunyai banyak curah hujan ataupun di daerah
yang kurang hujan, yang terpenting suhunya sekitar 25 – 31 derajat (celcius).
Bibit yang sudah berumur 1 bulan harus cepat ditanam agar tidak layu, dan waktu
penanaman yang baik adalah sore hari. Ciri-ciri benih yang siapa tanam ; tidak
terserang penyakit dan hama, pertumbuhan benih seragam.
3.
Penanaman
. Untuk penanaman usahakan jangan terlalu dekat/rapat jaraknya, hal in untuk
mengurangi serangan dari hama penyakit. Selain itu juga untuk mempermudah dalam
perawatan. Kira-kira jarak tanam yang ideal adalah 60 x 60 cm. tetapi jarak
tanam harus disesuaikan dengan musim, bila kemarau bisa dirapatkan. (Anonim, 2013).
BAB III
METODE PENELITIAN
1.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian deskriptif, dengan metode eksperimen.
2.
Waktu dan Tempat Penelitian
a.
Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada
tanggal 27 November 2013 - 1 Desember 2013
b.
Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi
Dasar dan green house FMIPA UNY.
3.
Variabel Penelitian
a.
Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah
cacing
yang ditambahkan pada perlakuan:
P1: 10 ekor cacing tanah
P2: 15 ekor
cacing tanah
P3: 20 ekor cacing tanah
b.
Variable kontrol
Variabel kontrol penelitian ini adalah tanah
yang tidak diberi tambahan cacing tanah
c.
Variabel Terikat
Variabel terikat penelitian ini adalah
kualitas tanah dengan indikator pertumbuhan tanaman cabai (tinggi
tanaman, jumlah daun dan berat tanaman)
serta faktor fisik kimia tanah.
4.
Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
a.
Populasi
Populasi
dalam penelitian ini adalah tanaman cabai rawit (Capsicum
frutescens L.)
b.
Sampel
Sampel dalam penelitian adalah tanaman cabai
rawit(Capsicum frutescens L.) yang diberi
tambahan cacing tanah
5.
Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini pengambilan sampel
dilakukan secara acak, pengukuran pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah
daun dan berat tanaman) dilakukan setiap
3hari sekali selama 3minggu. Sedangkan pengukuran sifat fisik kimia tanah
dilakukan pada awal penanaman (27 November 2013), dan saat pemanenan (1
Desember 2013).
6.
Alat dan Bahan Penelitian
a.
Alat
Alat yang
digunakan pada penelitian ini sebagai berikut :
1.
cetok
2.
Termometer
3.
Soil
tester
4.
Timbangan analitik
5.
Alat tulis
6.
Penggaris
7.
oven
b.
Bahan
Bahan yang
digunakan pada penelitian ini sebagai berikut :
Benih cabai rawit (Capsicum
frutescens L.), cacing tanah, sampel
tanah, polybag, alumunium foil.
7.
Langkah kerja
a.
Persiapan alat dan bahan serta pengambilan sampel
1.
Menentukan lokasi pengambilan sampel tanah, yaitu di kebun Biologi
UNY.
2.
Mengukur suhu, pH, dan kelembaban tanah sampel
3.
Mengamati struktur dan tekstur tanah sampel
4.
Memasukkan tanah kedalam 12 polybag
dengan menggunakan cetok.
5.
Memasukkan cacing tanah pada polybag, dengan
ketentuan:
P1 : 10ekor cacing tanah
P2 : 15ekor cacing tanah
P3 : 20ekor cacing tanah
P0 : kontrol (tanpa diberi tambahan
cacing tanah)
Dengan masing-masing tiga kali
ulangan.
Keterangan :
P1= perlakuan pertama
P2=perlakuan kedua
P3= perlakuan ketiga
6.
Mendiamkan sampel selama 24 jam.
b.
Persiapan pembenihan tanaman cabai rawit (Capsicum
frutescens L.),
1.
Menanam benih cabai rawit (Capsicum
frutescens L.)pada masing-masing polybag sebanyak 4 benih.
c.
Pemeliharaan
dan pengukuran pertumbuhan cabai rawit (Capsicum frutescens L.)
a)
Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada
pagi dan sore hari.
b)
Pengukuran
pertumbuhan cabai rawit (Capsicum
frutescens L.)
Pengukuran
pertumbuhan cabai rawit (Capsicum
frutescens L.) dilakukan setiap tiga hari sekali yaitu diukur tinggi tanaman
dan jumlah daun selama
tiga minggu.
c)
Pemanenan
dan pengumpulan data
Pemanenan
dilakukan setelah tanaman cabai rawit (Capsicum
frutescens L.) berusia 3minggu. Pemanenan dilakukan dengan mengambil
tanaman cabai dari polybag. Setelah
dipanen, tanaman cabai rawit ditimbang berat basahnya. Kemudian dimasukkan oven
selama 72jam, dan
ditimbang berat kering sehingga didapatkan biomassa tanaman cabai rawit.
d. Pengamatan kualitas tanah
Tanah sampel yang telah dipanen diamati struktur,
tekstur, pH, dan kelembapannya.
8.
Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini analisis data yang dilakukan adalah dengan
melihat perbandingan dan mendiskripsikan kondisi sifat fisik kimia tanah
sebelum dan sesudah perlakuan, serta melihat pertambahan tinggi dan jumlah daun
tanaman cabai rawit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengukuran
|
LAJU
INFILTRASI AWAL
|
||||
|
Perlakuan
|
Volume
awal
|
Volume
akhir
|
Waktu
(detik)
|
Laju
infiltrasi (ml/s)
|
|
Kontrol
|
50
ml
|
39
ml
|
7.03
(423)
|
0.026
|
|
P
1
|
63
ml
|
52
ml
|
6.08
(368)
|
0.029
|
|
P
2
|
50
ml
|
39
ml
|
7.14
(434)
|
0.025
|
|
P
3
|
54
ml
|
48
ml
|
6.49
(409)
|
0.01
|
|
Rata-rata
|
0.023
|
|||
|
LAJU
INFILTRASI
AKHIR
|
||||
|
Perlakuan
|
Volume awal
|
Volume akhir
|
Waktu (detik)
|
Laju infiltrasi (ml/s)
|
|
Kontrol
|
55 ml
|
37 ml
|
7.23 (443)
|
0.04
|
|
Perlakuan 1
|
53 ml
|
42 ml
|
5.12 (312)
|
0.035
|
|
Perlakuan 2
|
60 ml
|
51 ml
|
6.24 (384)
|
0.023
|
|
Perlakuan 3
|
56 ml
|
43,5 ml
|
7.49 (469)
|
0.026
|
|
Rata-rata
|
0.031
|
|||
|
HASIL PENGUKURAN
|
|||||||
|
Perlak
|
Tinggi
Tanaman (cm)
|
Rerata
|
|||||
|
Awal
|
20 Nov
|
23 Nov
|
26 Nov
|
29 Nov
|
2
Des
|
||
|
Kontrol
|
11.6
|
11.8
|
12.6
|
14.5
|
14.8
|
15.8
|
13.39
|
|
P1
|
12.5
|
12.5
|
13.3
|
15.07
|
15.7
|
15.7
|
14.12
|
|
P2
|
10.6
|
11.05
|
11.8
|
13.5
|
14.4
|
14.7
|
12.67
|
|
P3
|
10.9
|
11.4
|
12.2
|
14
|
14.9
|
15.6
|
13.07
|
|
HASIL PENGUKURAN
|
|||||||
|
Perlak
|
Jumlah daun (lembar)
|
Rerata
|
|||||
|
Awal
|
20 Nov
|
23 Nov
|
26 Nov
|
29 Nov
|
2 Des
|
||
|
Kontrol
|
6
|
7
|
6
|
6
|
5
|
5
|
6
|
|
P1
|
5
|
5
|
6
|
6
|
6
|
6
|
6
|
|
P2
|
5
|
5
|
5
|
5
|
6
|
6
|
5
|
|
P3
|
5
|
6
|
6
|
6
|
6
|
6
|
6
|
|
Parameter Fisik dan Kimia
|
Keadaan awal
|
Keadaan akhir
|
|
Kelembaban tanah
|
79%
|
76%
|
|
pH
|
6
|
6,5
|
|
Intensitas cahaya
|
345
|
332
|
|
Suhu
|
27 0C
|
28 0C
|
|
Warna Tanah
|
Coklat kehitaman
|
Coklat kehitaman
|
|
Tekstur tanah
|
Loam
|
Loam
|
|
Sruktur tanah
|
Kasar
|
Kasar
|
|
Perlakuan
|
Biomassa
|
|
|
Rata-rata
|
||
|
Berat basah (gr)
|
Berat kering
(gr)
|
|
|
Kontrol
|
1,91
|
0,28
|
|
Perlakuan 1
|
2,50
|
0,31
|
|
Perlakuan 2
|
2,39
|
0,31
|
|
Perlakuan 3
|
2,84
|
0,33
|
B. Pembahasan
Group
project yang praktikan lakukan bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penambahan cacing tanah terhadap perbaikan kualitas tanah dengan
indikator pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum
frutescens L.) dan sifat fisik kimia tanah.
Kualitas tanah adalah kapasitas suatu
tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan
produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan
kesehatan tanaman dan hewan. Johnson et al. (1997) mengusulkan bahwa kualitas
tanah adalah ukuran kondisi tanah dibandingkan dengan kebutuhan satu atau
beberapa spesies atau dengan beberapa kebutuhan hidup manusia ( Partoyo, 2005
).
Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia
dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat
terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang
menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat, kemampuan tanah
menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap erosi dan lain sebagainya.
Lalu parameter kimia yang mempengaruhi kualitas tanah adalah, ketersediaan unsure hara, KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan
parameter biologi yang menentukan kualitas tanah antara lain jumlah dan jenis
mikrobia yang ada dan beraktivitasdi dalam tanah. Akan tetapi, pada percobaan kali ini praktikan hanya melihat sifat fisik
tanah yang meliputi stuktur dan tekstur tanah, sedangkan sifat kimia tanah
meliputi pH, suhu, dan kelembaban tanah, serta melalui parameter pertumbuhan
tanaman cabai rawit yang meliputi pertambahan tinggi, jumlah daun, dan berat
tanaman.
Dari
hasil percobaan yang praktikan lakukan dapat diketahui bahwa tanah sampel
yang praktikan ambil memiliki warna coklat kehitaman baik sebelum maupun tiga
minggu setelah perlakuan. Adanya penambahan cacing tanah tidak memengaruhi
warna tanah. Menurut teori, adanya penambahan cacing tanah dapat menambah pembentukan pori tanah. Cacing
tanah beraktivitas didalam tanah baik secara vertikal maupun
horizontal, sehingga jumlah pori makro tanah bertambah. Hal
ini dapat dibuktikan dari laju
infiltrasi yang mengalami peningkatan dari ketiga perlakuan. Akan
tetapi, tidak hanya kelompok perlakuan saja yang mengalami peningkatan,
kelompok kontrol juga mengalami peningkatan laju infiltrasi. Hal ini dapat
dikarenakan karena tanah yang praktikan gunakan sebagai sampel merupakan tanah
yang sudah subur sehingga dapat dimungkinkan terdapat telur cacing yang menetas
pada kelompok kontrol, sebab pada pada akhir percobaan praktikan menemukan
cacing dalam kelompok kontol yang sebelumnya tidak terdapat cacing.
Laju infiltrasi untuk kelompok kontrol (tidak ditambah
cacing tanah) mengalami kenaikan, dimana laju infiltrasi menjadi lebih cepat.
Begitu juga dengan perlakuan pertama (ditambah 10 cacing) dan perlakuan ketiga
(di tambah 20 cacing).Untuk perlakuan kedua (ditambah 15 cacing), laju
infiltrasi menurun. Hal itu dapat disebabkan karena tanah pada kelompok
perlakuan kedua lebih basah jika dibandingkan dengan perlakuan pertama, ketiga,
maupun kontrol. Akan tetapi jika dirata-rata secara keseluruhan dapat diketahui
bahwa laju infiltrasi meningkat setelah penambahan cacing tanah. Penambahan
cacing tanah membuat pori tanah meningkat sehingga laju infiltrasipun semakin
cepat.
Tekstur tanah sampel yang praktikan amati baik sebelum perlakuan maupun
sesudah perlakuan adalah jenis loam. Loam merupakan tanah
yang mengandung sama banyak pasir, debu, dan lempung sehingga terasa agak ngeres, licin dan agak liat. Selain itu, dapat membentuk bola yang
agak teguh dan hancur. Sedangkan stuktur
tanah yang praktikan amati baik sebelum maupun sesudah perlakuan adalah kasar.
Untuk pH yang praktikan amati mengalami kenikan mendekati pH netral yaitu
dari 6 menjadi 6,5. Hal ini menunjukkan adanya penambahan cacing tanah
meningkatkan kesuburan tanah dengan melihat pH yang mendekati netral.
Untuk
tinggi tanaman dapat diketahui bahwa semuanya mengalami pertumbuhan tinggi baik
kontrol maupun perlakuan. Pada kelompok kontrol mengalami pertumbuhan tinggi
yang lebih lambat dibandingkan dengan kelompok perlakuan pertama, kedua, maupun
ketiga. Diketahui juga bahwa pertumbuhan tinggi yang paling cepat pada kelompok
perlakuan ketiga yaitu yang ditambah 20 cacing. Hal itu dapat dipengaruhi oleh
tingkat kesuburan tanah, dimana tanah yang diberi tambahan cacing menjadi lebih
subur.
Untuk
jumlah daun, dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa untuk kelompok kontrol jumlah daun tidak
bertambah, sedangkan untuk kelompok perlakuan baik pertama, kedua, maupun
ketiga semuanya mengalami pertambahan jumlah daun, yaitu sebanyak satu daun.
Hal itu dikarenakan tanah yang diberi perlakuan tambahan cacing memiliki
tingkat kesuburan yang lebih jika dibandingkan dengan tanah kontrol.
Biomassa
tanaman diketahui antara perlakuan kontrol dengan tanah yang diberi cacing
terjadi perbedaan. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan, hal ini
disebabkan karena perbandingan jumlah cacing yang digunakan pada masing-masing
perlakuan tidak terlalu signifikan.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat dismipulkan bahwa adanya
penambahan cacing tanah berpengaruh terhadap perbaikan kualitas tanah yang
dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman cabai rawit (pertambahan tinggi, jumlah
daun, dan berat) serta sifat fisik kimia tanah. Dari hasil pengamatan dapat
diketahui bahwa pada kelompok perlakuan ketiga yaitu yang ditambah 20 ekor
cacing memiliki pertumbuhan tanaman cabai yang lebih cepat dibanding kelompok
kontrol, dan perlakuan pertama (ditambah 10 ekor cacing) dan kedua (ditambah
15ekor cacing). Sedangkan untuk sifat fisik kimia tanah dari hasil pengamatan
praktikan untuk sifat fisik (struktur dan tekstur tanah) tidak terjadi
perubahan setelah penambahan cacing tanah. Akan tetapi untuk sifat kimia (pH)
terjadi peningkatan dari 6 menjadi 6,5 setelah diberi tambahan cacing tanah.
How do I make money from playing games and earning
ReplyDeleteThese are the three deccasino most popular 바카라 사이트 forms of gambling, and https://febcasino.com/review/merit-casino/ are explained in a very concise and concise manner. The most common forms หาเงินออนไลน์ of gambling are: