Biologi Tanah : PEMANFAATAN CACING TANAH UNTUK PERBAIKAN KUALITAS TANAH DENGAN INDIKATOR PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DAN SIFAT FISIK KIMIA TANAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kesuburan tanah merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pertanian. Kesuburan tanah di anggap dapat menjamin hasil tanaman selain faktor varietas, pengeloaan tanaman dan hama serta penyakit. Namun untuk menjamin produksi tanaman tidak hanya perlu memperhatikan kesuburan tanah melainkan harus juga memperhatikan kualitas tanah tersebut. Kualitas tanah (soil health atau soil quality) adalah kondisi tanah yang menggambarkan tanah itu sehat, yaitu mempunyai sifat tanah yang baik dan produktifitasnya tinggi secara berkelanjutan. (Utomo, 2002 dan Reintjes et al, 1999). Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat, kemampuan tanah menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap erosi dan lain sebagainya. Sedangkan, parameter kimia yang mempengaruhi kualitas tanah adalah, ketersediaan unsur hara, KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan parameter biologi yang menentukan kualitas tanah anatara lain jumlah dan jenis mikrobia yang ada dan beraktivitas di dalam tanah.
Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, antara lain bahan induk, iklim, relief, dan organisme. Salah satu organisme yang berperan dalam menyuburkan tanah adalah cacing. Cacing tanah memiliki banyak manfaat bagi lingkungan. Cacing memiliki kemampuan untuk memperbaiki struktur tanah, mereka akan membantu meningkatkan porositas, dinamika nutrisi, dan pertumbuhan tanaman. Cacing tanah sangat sensitif terhadap polusi lingkungan. Polusi yang disebabkan dari racun dalam herbisida kimia dan pestisida bisa membuat cacing tanah menyingkir dari tanah pekarangan. Sudah sejak zaman dahulu cacing dijadikan indikator untuk menentukan kualitas tanah.
Cabai rawit termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. . Batang Tanaman Cabai Batang utama tanaman cabai tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30 – 40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5 – 3,0 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30 – 40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10 – 15 HST ( Anonim, 2013 ).
Dari paparan di atas, kami tertarik untuk meneliti pemanfaatan cacing tanah untuk perbaikan kualitas tanah dengan indikator pertumbuhan tanaman cabe rawit (Capsicum frutescens L.) dan sifat fisik kimia tanah.

B.   Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh penambahan cacing tanah terhadap  perbaikan kualitas tanah dengan indikator tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan sifat fisik kimia tanah?

C.   Tujuan
Mengetahui pengaruh penambahan cacing tanah terhadap  perbaikan kualitas tanah dengan indikator tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan sifat fisik kimia tanah.

BAB II
KAJIAN TEORI
A.        Kualitas Tanah
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak ( Anonim, 2012 ).
Tanah sangat vital untuk mendukung kehidupan. Tanah menjadi wahana jelajah akar,menyediakan air, udara dan unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan. Tanah merupakan rumah bagi jutaan mikroorganisme yang melakukan berbagai aktivitas biokimia, seperti pengikatan nitrogen dari udara sampai pelapukan bahan organik, juga merupakan tempat bagi mikro dan mesofauna – termasuk cacing tanah, semut dan rayap yang memakan akar tanaman, organisme lain dan bahan organic ( Anonim, 2012).
Tanah yang sehat memiliki kemampuan untuk menyimpan dan memproses jumlah yang menakjubkan air. Rendahnya kualitas, habis tanah, di sisi lain, hanya tidak akan menahan air dan akan, pada gilirannya, meninggalkan tanaman yang tinggi dan kering dan akhirnya mati. Mereka kunci untuk sehat, tinggi kualitas tanah adalah banyak bahan organik, sesuatu yang terbentuk oleh organisme hidup. Dengan menambahkan bahan organik ke tanah, kita akan secara dramatis meningkatkan kemampuannya untuk menahan dan mengatur air ( Badan Lingkungan Hidup, 2013 ).
Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat, kemampuan tanah menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap erosi dan lain sebagainya. Lalu parameter kimia yang mempengaruhi kualitas taah adalah, ketersediaan unsure hara, KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan parameter biologi yang menentukan kualitas tanah antara lain jumlah dan jenis mikrobia yang ada dan beraktivitasdi dalam tanah.
Dalam penentuan kualitas tanah, harus memperhatikan banyak faktor, salah satuna yaitu sifat tanah (fisik, biologi, dan kimia). Oleh karena itu, sangat pentng untuk mahasiswa melaksanakan praktikum kualitas tanah, yaitu dengan menjadikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sebagai parameter yang diamati (Badan Lingkungan Hidup, 2013 ).
Doran & Parkin (1994) memberikan batasan kualitas tanah adalah kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Johnson et al. (1997) mengusulkan bahwa kualitas tanah adalah ukuran kondisi tanah dibandingkan dengan kebutuhan satu atau beberapa spesies atau dengan beberapa kebutuhan hidup manusia ( Partoyo, 2005 ).
Kualitas tanah diukur berdasarkan pengamatan kondisi dinamis indikator-indikator kualitas tanah. Pengukuran indikator kualitas tanah menghasilkan indeks kualitas tanah. Indeks kualitas tanah merupakan indeks yang dihitung berdasarkan nilai dan bobot tiap indikator kualitas tanah. Indikator-indikator kualitas tanah dipilih dari sifat-sifat yang menunjukkan kapasitas fungsi tanah. Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau proses fisika, kimia dan biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001). Menurut Doran & Parkin (1994), indikator-indikator kualitas tanah harus (1) menunjukkan proses-proses yang terjadi dalam ekosistem, (2) memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah, (3) dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat diterapkan di berbagai kondisi lahan, (4) peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan iklim, dan (5) apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa diamati pada data dasar tanah ( Partoyo, 2005 ).
Struktur tanah didefinisikan sebagai susunan saling mengikat partikel-partikel tanah. Ikatan partikel tanah itu berwujud sebagai agregat tanah, agregat tanah tersebut dinamakan ped. Gumpalan tanah yang terbentuksebagai akibat penggarapan tanah (clod), atau yang terbentuk karena sebab lain dari luar (fragmen), atau yang terbentuk karena akumulasi local senyawa-senyawa yang mengikat partikel tanah (konkresi) tidak terasuki apa yang dinamakan agregat tanah. Struktur danah berdasarkan pengamatan dibedakan menjadi tiga yakni tipe struktur, klass struktur, dan derajat struktur(Darmawijaya, 1997).
Pengamatan dilapangan pada umumnya didasarkan atas type struktur, klas struktur dan derajat struktur. Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacam-macam klas pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type lempeng ( platy ), type tiang, type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ), type granulair, type butir tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian klas yaitu dengan fase sangat halus, halus, sedang, kasar dan sangat kasar. Untuk semua type tanah dengan ukuran klas berbeda-beda untuk masing-masing type. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau berbutir tunggal, tanah lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika tersinggung mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah sedang/cukup yaitu tanah berbentuk agregat yang jelas yang masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan (Baver dalam Nur, 2010)
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu masa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung (clay), debu (silt), dan pasir (sand). Butir tunggal tanah di beri istilah partikel tanah dan golongan partikel tanah diberi istilah fraksi tanah.Penggolongan tekstur tanah didasarkan atas perbandingan kandungan lempung, debu, dan pasir penyusun tanah.  
Definisi dari beberapa tekstur tanah yakni sand merupakan tanah lepas-lepas dan berbutir tunggal yang mudah dilihat dan dirasakan, jika di pijak kering berderai, basah tergumpal meremah. Sandy loam merupakan tanah mengandung cukup pasir melekat karena adanya debu dan lempung , sedangkan pasirnya dapat dirasakan dipijat, kering membentuk gumpalan lagi yang mudah pecah lagi. Loam merupakan tanah yang mengandung sama banyak pasir, debu, dan lempung sehingga terasa agak ngeres, licin dan agak liat. Silt loammerupakan tanah kering menggumpal tetapi mudah pecah. Clay loam tektur tanah yang berstruktur halus yang dapat pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang keras jika pecah, jikah basah pijatan membentuk batang-batang tipis yang sukar pecah. Claymerupakan tanah yang berstruktur halus yang biasanya membentuk gumpalan-gumpalan kerasyang kering. Beberapa tanah jenis lempung halus kadar koloidnya sangat tinggi konsistensinya gembur dan dan kurang liat dalam sembarang kandungan air (Darmawijaya, 1997).

B.        Cacing Tanah
Klasifikasi cacing tanah:
Kingdom          : Animalia
Phylum            : Annelida
Class               : Clitellata
Order               : Haplotaxida
Family             : Lumbricidae
Genus             : Lumbricus
Species           : Lumbricus rubellus

SIKLUS HIDUP CACING TANAH
Sepasang cacing tanah dewasa dapat berkembang biak hingga menghasilkan 1500 ekor cacing dalam satu tahun. Populasi cacing tanah mengalami peningkatan hingga 100% setiap 4-6 bulan. Cacing tanah akan membatasi perkembangbiakan mereka agar sesuai dengan makanan yang tersedia dan ukuran tempat hidup mereka. 

Manfaat cacing tanah, antara lain :
·                Cacing tanah dapat membantu mengolah sampah dapur menjadi kompos yang baik untuk tumbuhan. Cacing tanah mampu mengubah bahan organik yang dimakan menjadi kotoran (castings) dan urine (worm tea). Kandungan urea dalam urine cacing adalah pupuk alami yang baik. Terlebih kotoran cacing mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, potasium, dan kalsium yang penting untuk pertumbuhan tanaman.
·                Tubuh cacing tanah yang terdiri atas 70% protein adalah sumber makanan bergizi tinggi bagi hewan ternak dan peliharaan seperti ayam, bebek, ikan, sidat, dan burung.
·                Kegiatan menggali yang dilakukan cacing tanah mampu menciptakan sistem drainase alami, meningkatkan jumlah udara dan air dalam tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur dan baik untuk ditanami semua jenis tanaman.

Peran cacing tanah bagi kesuburan tanah, antara lain:
·                Memperbaiki tata ruang tanah
·                Membentuk pori tanah : cacing beraktivitas didalam tanah baik secara vertikal maupun horizontal, sehingga jumlah pori makro tanah bertambah.
·                Infiltrasi (jalannya air didalam tanah) : infiltrasi penting untuk mengendalikan limpasan permukaan dan pengangkutan partikel tanah (erosi).
·                Agen bioturbasi : pembalikan dari atas kebawah atau sebaliknya yang dilakukan cacing untuk mendistribusikan agar bahan organik merata didalam tanah.

C.        Tanaman Cabai
Klasifikasi cabai rawit
Kingdom          : Plantae
Sub Kingdom  : Tracheobionta
Divisio             : Spermatophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Sub Kelas        : Asteridae
Ordo                : Solanales
Family             : Solanaceae
Genus             : Capsicum
Spesies           : Capsicum frutescens L.
(Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2012).
Tanaman Cabai pada dasarnya terbagi atas dua golongan utama, yaitu cabai besar (Capsicum annum L.) dan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Cabai besar terbagi menjadi dua golongan, yaitu cabai pedas (hot pepper) dan cabai paprika (sweet pepper). Pada artikel ini yang akan diulas adalah cabai besar pedas (Capsicum annum var. longum L.) (Anonim, 2013).
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar (Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2012).
Perakaran tanaman cabai merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder). Dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer berkisar 35 – 50 cm. Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35 – 45 cm ( Anonim, 2013 ).
Batang Tanaman Cabai Batang utama tanaman cabai tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30 – 40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5 – 3,0 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30 – 40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10 – 15 HST ( Anonim, 2013 ).
Dilihat dari pertumbuhannya, pertambahan panjang tanaman cabai diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk percabangan sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus- menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan terbentuk sekitar 11 – 17 percabangan pada satu periode pembungaan ( Anonim, 2013 ).
Daun Tanaman Cabai Daun tanaman cabai berwarna hijau muda sampai gelap. Daun ditopang oleh tangkai daun. Tulang daun berbentuk menyirip. Secara keseluruhan bentuk daun tanaman cabai besar adalah lonjong dengan ujung daun meruncing (Anonim, 2013 ).
Tanaman cabe cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air; pH tanah yang ideal sekitar 5 - 6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret - April). Untuk memperoleh harga cabe yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun ada risiko kegagalan. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit . Buah cabe yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya: Untuk areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabe (300-500 gr biji) (Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2012).
Syarat tumbuh tanaman cabai rawit:
1.         Tanah. Tanah yang direkomendasikan sebagai media tanam cabai rawit adalah tanah yang subur dan gembur selain itu juga harus kaya dengan zat hara. Usahakan memilih tanah yang baik dalam penyerapan air jangan memilih tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik karena akan menjadi genangan dan bisa merusak cabai. Untuk itu perbanyak pemberian humus. Cabai rawit bisa ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah.
2.         Iklim. Cabai rawit bisa tumbuh di daerah yang mempunyai banyak curah hujan ataupun di daerah yang kurang hujan, yang terpenting suhunya sekitar 25 – 31 derajat (celcius). Bibit yang sudah berumur 1 bulan harus cepat ditanam agar tidak layu, dan waktu penanaman yang baik adalah sore hari. Ciri-ciri benih yang siapa tanam ; tidak terserang penyakit dan hama, pertumbuhan benih seragam.
3.         Penanaman . Untuk penanaman usahakan jangan terlalu dekat/rapat jaraknya, hal in untuk mengurangi serangan dari hama penyakit. Selain itu juga untuk mempermudah dalam perawatan. Kira-kira jarak tanam yang ideal adalah 60 x 60 cm. tetapi jarak tanam harus disesuaikan dengan musim, bila kemarau bisa dirapatkan. (Anonim, 2013).

BAB III
METODE PENELITIAN

1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, dengan metode eksperimen.
2.   Waktu dan Tempat Penelitian
a.   Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 27 November 2013 - 1 Desember 2013
b.   Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Dasar dan green house FMIPA UNY.
3.   Variabel Penelitian
a.   Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah cacing yang ditambahkan pada perlakuan:
P1: 10 ekor cacing tanah
P2: 15 ekor cacing tanah
P3: 20 ekor cacing tanah
b.   Variable kontrol
Variabel kontrol penelitian ini adalah tanah yang tidak diberi tambahan cacing tanah
c.   Variabel Terikat
Variabel terikat penelitian ini adalah kualitas tanah dengan indikator pertumbuhan tanaman cabai (tinggi tanaman, jumlah daun dan berat tanaman) serta faktor fisik kimia tanah.
4.      Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
a.   Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.)
b.   Sampel
Sampel dalam penelitian adalah tanaman cabai rawit(Capsicum frutescens L.) yang diberi tambahan cacing tanah
5.      Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara acak, pengukuran pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun dan berat tanaman) dilakukan setiap 3hari sekali selama 3minggu. Sedangkan pengukuran sifat fisik kimia tanah dilakukan pada awal penanaman (27 November 2013), dan saat pemanenan (1 Desember 2013).
6.      Alat dan Bahan Penelitian
a.   Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini sebagai berikut :
1.   cetok
2.   Termometer
3.   Soil tester
4.   Timbangan analitik
5.   Alat tulis
6.   Penggaris
7.   oven
b.   Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini sebagai berikut :
Benih cabai rawit (Capsicum frutescens L.), cacing tanah, sampel tanah, polybag, alumunium foil.
7.         Langkah kerja
a.    Persiapan alat dan bahan serta pengambilan sampel
1.      Menentukan lokasi pengambilan sampel tanah, yaitu di kebun Biologi UNY.
2.      Mengukur suhu, pH, dan kelembaban tanah sampel
3.      Mengamati struktur dan tekstur tanah sampel
4.      Memasukkan tanah kedalam 12 polybag dengan menggunakan cetok.
5.      Memasukkan cacing tanah pada polybag, dengan ketentuan:
P1 : 10ekor cacing tanah
P2 : 15ekor cacing tanah
P3 : 20ekor cacing tanah
P0 : kontrol (tanpa diberi tambahan cacing tanah)
Dengan masing-masing tiga kali ulangan.
Keterangan :
P1= perlakuan pertama
P2=perlakuan kedua
P3= perlakuan ketiga
6.      Mendiamkan sampel selama 24 jam.
b.    Persiapan pembenihan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.),
1.      Menanam benih cabai rawit (Capsicum frutescens L.)pada masing-masing polybag sebanyak 4 benih.
c.    Pemeliharaan dan pengukuran pertumbuhan cabai rawit (Capsicum frutescens L.)
a)  Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari.
b)  Pengukuran pertumbuhan cabai rawit (Capsicum frutescens L.)
Pengukuran pertumbuhan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dilakukan setiap tiga hari sekali yaitu diukur tinggi tanaman dan jumlah daun selama tiga minggu.
c)  Pemanenan dan pengumpulan data
Pemanenan dilakukan setelah tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) berusia 3minggu. Pemanenan dilakukan dengan mengambil tanaman cabai dari polybag. Setelah dipanen, tanaman cabai rawit ditimbang berat basahnya. Kemudian dimasukkan oven selama 72jam, dan ditimbang berat kering sehingga didapatkan biomassa tanaman cabai rawit.
d.    Pengamatan kualitas tanah
Tanah sampel yang telah dipanen diamati struktur, tekstur, pH, dan kelembapannya.

8.         Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini analisis data yang dilakukan adalah dengan melihat perbandingan dan mendiskripsikan kondisi sifat fisik kimia tanah sebelum dan sesudah perlakuan, serta melihat pertambahan tinggi dan jumlah daun tanaman cabai rawit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengukuran
LAJU INFILTRASI AWAL

Perlakuan
Volume awal
Volume akhir
Waktu (detik)
Laju infiltrasi (ml/s)
Kontrol
50 ml
39 ml
7.03 (423)
0.026
P 1
63 ml
52 ml
6.08 (368)
0.029
P 2
50 ml
39 ml
7.14 (434)
0.025
P 3
54 ml
48 ml
6.49 (409)
0.01
Rata-rata
0.023

LAJU INFILTRASI
AKHIR
Perlakuan
Volume awal
Volume akhir
Waktu (detik)
Laju infiltrasi (ml/s)
Kontrol
55 ml
37 ml
7.23  (443)
0.04
Perlakuan 1
53 ml
42 ml
5.12 (312)
0.035
Perlakuan 2
60 ml
51 ml
6.24 (384)
0.023
Perlakuan 3
56 ml
43,5 ml
7.49 (469)
0.026
Rata-rata
0.031

HASIL PENGUKURAN

Perlak
Tinggi Tanaman (cm)
Rerata
Awal
20 Nov
23 Nov
26 Nov
29 Nov
2
Des
Kontrol
11.6
11.8
12.6
14.5
14.8
15.8
13.39
P1
12.5
12.5
13.3
15.07
15.7
15.7
14.12
P2
10.6
11.05
11.8
13.5
14.4
14.7
12.67
P3
10.9
11.4
12.2
14
14.9
15.6
13.07

HASIL PENGUKURAN

Perlak
Jumlah daun (lembar)
Rerata
Awal
20 Nov
23 Nov
26 Nov
29 Nov
2 Des
Kontrol
6
7
6
6
5
5
6
P1
5
5
6
6
6
6
6
P2
5
5
5
5
6
6
5
P3
5
6
6
6
6
6
6

Parameter Fisik dan Kimia
Keadaan awal
Keadaan akhir
Kelembaban tanah
79%
76%
pH
6
6,5
Intensitas cahaya
345
332
Suhu
27 0C
28 0C
Warna Tanah
Coklat kehitaman
Coklat kehitaman
Tekstur tanah
Loam
Loam
Sruktur tanah
Kasar
Kasar

Perlakuan
Biomassa
Rata-rata
Berat basah (gr)
Berat kering
(gr)
Kontrol
1,91
0,28
Perlakuan 1
2,50
0,31
Perlakuan 2
2,39
0,31
Perlakuan 3
2,84
0,33

B.    Pembahasan
Group project yang praktikan lakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan cacing tanah terhadap perbaikan kualitas tanah dengan indikator pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan sifat fisik kimia tanah.
Kualitas tanah adalah kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Johnson et al. (1997) mengusulkan bahwa kualitas tanah adalah ukuran kondisi tanah dibandingkan dengan kebutuhan satu atau beberapa spesies atau dengan beberapa kebutuhan hidup manusia ( Partoyo, 2005 ).
Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain serta saling mempengaruhi. Parameter sifat fisik yang menentukan kualitas tanah antara lain, tekstur, struktur, stabilitas agregat, kemampuan tanah menahan dan meloloskan lain serta ketahanan tanah terhadap erosi dan lain sebagainya. Lalu parameter kimia yang mempengaruhi kualitas tanah adalah, ketersediaan unsure hara, KTK, KTA, pH, ada tidaknya zat pencemar, dan lain sebagainya. Sedangkan parameter biologi yang menentukan kualitas tanah antara lain jumlah dan jenis mikrobia yang ada dan beraktivitasdi dalam tanah. Akan tetapi, pada percobaan kali ini praktikan hanya melihat sifat fisik tanah yang meliputi stuktur dan tekstur tanah, sedangkan sifat kimia tanah meliputi pH, suhu, dan kelembaban tanah, serta melalui parameter pertumbuhan tanaman cabai rawit yang meliputi pertambahan tinggi, jumlah daun, dan berat tanaman.
Dari hasil percobaan yang praktikan lakukan dapat diketahui bahwa tanah sampel yang praktikan ambil memiliki warna coklat kehitaman baik sebelum maupun tiga minggu setelah perlakuan. Adanya penambahan cacing tanah tidak memengaruhi warna tanah. Menurut teori, adanya penambahan cacing tanah dapat menambah pembentukan pori tanah. Cacing tanah beraktivitas didalam tanah baik secara vertikal maupun horizontal, sehingga jumlah pori makro tanah bertambah. Hal ini dapat dibuktikan dari laju  infiltrasi yang mengalami peningkatan dari ketiga perlakuan. Akan tetapi, tidak hanya kelompok perlakuan saja yang mengalami peningkatan, kelompok kontrol juga mengalami peningkatan laju infiltrasi. Hal ini dapat dikarenakan karena tanah yang praktikan gunakan sebagai sampel merupakan tanah yang sudah subur sehingga dapat dimungkinkan terdapat telur cacing yang menetas pada kelompok kontrol, sebab pada pada akhir percobaan praktikan menemukan cacing dalam kelompok kontol yang sebelumnya tidak terdapat cacing.
Laju infiltrasi untuk kelompok kontrol (tidak ditambah cacing tanah) mengalami kenaikan, dimana laju infiltrasi menjadi lebih cepat. Begitu juga dengan perlakuan pertama (ditambah 10 cacing) dan perlakuan ketiga (di tambah 20 cacing).Untuk perlakuan kedua (ditambah 15 cacing), laju infiltrasi menurun. Hal itu dapat disebabkan karena tanah pada kelompok perlakuan kedua lebih basah jika dibandingkan dengan perlakuan pertama, ketiga, maupun kontrol. Akan tetapi jika dirata-rata secara keseluruhan dapat diketahui bahwa laju infiltrasi meningkat setelah penambahan cacing tanah. Penambahan cacing tanah membuat pori tanah meningkat sehingga laju infiltrasipun semakin cepat.
Tekstur tanah sampel yang praktikan amati baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan adalah jenis loam. Loam merupakan tanah yang mengandung sama banyak pasir, debu, dan lempung sehingga terasa agak ngeres, licin dan agak liat. Selain itu, dapat membentuk bola yang agak teguh dan hancur. Sedangkan stuktur tanah yang praktikan amati baik sebelum maupun sesudah perlakuan adalah kasar.
Untuk pH yang praktikan amati mengalami kenikan mendekati pH netral yaitu dari 6 menjadi 6,5. Hal ini menunjukkan adanya penambahan cacing tanah meningkatkan kesuburan tanah dengan melihat pH yang mendekati netral.
Untuk tinggi tanaman dapat diketahui bahwa semuanya mengalami pertumbuhan tinggi baik kontrol maupun perlakuan. Pada kelompok kontrol mengalami pertumbuhan tinggi yang lebih lambat dibandingkan dengan kelompok perlakuan pertama, kedua, maupun ketiga. Diketahui juga bahwa pertumbuhan tinggi yang paling cepat pada kelompok perlakuan ketiga yaitu yang ditambah 20 cacing. Hal itu dapat dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanah, dimana tanah yang diberi tambahan cacing menjadi lebih subur.
Untuk jumlah daun, dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa untuk kelompok kontrol jumlah daun tidak bertambah, sedangkan untuk kelompok perlakuan baik pertama, kedua, maupun ketiga semuanya mengalami pertambahan jumlah daun, yaitu sebanyak satu daun. Hal itu dikarenakan tanah yang diberi perlakuan tambahan cacing memiliki tingkat kesuburan yang lebih jika dibandingkan dengan tanah kontrol.
Biomassa tanaman diketahui antara perlakuan kontrol dengan tanah yang diberi cacing terjadi perbedaan. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan, hal ini disebabkan karena perbandingan jumlah cacing yang digunakan pada masing-masing perlakuan tidak terlalu signifikan.

BAB V
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat dismipulkan bahwa adanya penambahan cacing tanah berpengaruh terhadap perbaikan kualitas tanah yang dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman cabai rawit (pertambahan tinggi, jumlah daun, dan berat) serta sifat fisik kimia tanah. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada kelompok perlakuan ketiga yaitu yang ditambah 20 ekor cacing memiliki pertumbuhan tanaman cabai yang lebih cepat dibanding kelompok kontrol, dan perlakuan pertama (ditambah 10 ekor cacing) dan kedua (ditambah 15ekor cacing). Sedangkan untuk sifat fisik kimia tanah dari hasil pengamatan praktikan untuk sifat fisik (struktur dan tekstur tanah) tidak terjadi perubahan setelah penambahan cacing tanah. Akan tetapi untuk sifat kimia (pH) terjadi peningkatan dari 6 menjadi 6,5 setelah diberi tambahan cacing tanah.


















Comments

  1. How do I make money from playing games and earning
    These are the three deccasino most popular 바카라 사이트 forms of gambling, and https://febcasino.com/review/merit-casino/ are explained in a very concise and concise manner. The most common forms หาเงินออนไลน์ of gambling are:

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Biologi Tanah Observasi dan Identifikasi Mikrofauna, Mesofauna, dan Makrofauna Tanah, serta Identifikasi Cacing Tanah

Biologi Tanah PENGAMBILAN CONTOH TANAH DAN OBSERVASI FISIKOKIMIA TANAH

Biologi Perkembangan Tumbuhan : Perkecambahan Serbuk Sari